By Binjalang
Sendiri
Terlari menghilang suci
Terempas berlari-lari
Cakra kejauhan
Kumandang menapak
Lari-lari
Putaran ini
Tempat apa ini
Sayup sepuh
Rapuh
Merampas
Pejam
Pejaman mata ini
Gurat sisi menari
Turun naik
Let me
Let me..
Mekar raga kekar
Tegap
Libido nadi mengunci
Tetes kan turun
Loncat tinggi
Merayap
Layang melayang
Susur menyusur
Nafas renang belah kedalaman
Carik ini
Beri
Cacing
Batu tertinggi
Senin, 03 Desember 2012
Rabu, 07 November 2012
Kimberly: 4. Girl? Sorry I’m Gay
Nikita, teman SD
Ben, duduk-duk melamun sambil memandang langit dari dalam jendela. Ia membayangkan
ben yang telah tumbuh dewasa.
“Ben, you are
wonderful, talented, i miss u so much. I love you.”
Dengan
senyum-senyum sendiri ia terus memandangi langit sambil membayangkan Ben.
Di Surabaya, Sarah
melamun di tempat kerjanya. Membayangkan sosok ben temn smp dia. Dia gila,
ambisius, dan menakjubkan.
“Ben, kamu harus
tahu, aku sayang banget ma kamu.”
Sarah melanjutkan
lamunannya.
Di Jakarta, Grace
dengan gaya glamornya, sedang mengangan-angankan teman sma nya ben. Yang
menurutnya sensaional. Acuh dan berprestasi.
“Ben, kamu
sensasional. Aku cinta mati ma kamu.”
Grace
terenyum-senyum membayangkan Ben sambil mengaduk minuman yang telah di
pesannya.
Lamunan ketiganya
tiba-tiba teringat pada perkataan Ben yang memupuskan harapan mereka.
“Girl? Sorry I’m
Gay”
Keterkejutan itu
membuat mereka garuk-garuk kepala. Pria yang sempurna. Tapi sayangnya gay.
Meskipun begitu mereka tetap saja tiada henti membayangkan ben. Dan berharap
ben bukanlah gay. Meskipun mereka juga bertanya-tanya, karena belum pernah
melihat ben bermesraan dengan lelaki. Tapi memang Ben tidak pernah kencan
dengan seorang perempuan pun.
Ya, itulah ben.
Dalam urusan wanita dan percintaan, dia selalu berkata, “Girl? Sorry, I’m Gay”
Dan perkataan itu
terbukti efektif untuk membuat wanita-wanita yang menyukainya perlahan-lahan
mundur teratur.
Di New York pun tak
sedikit yang menyukai ataupun mengagumi Ben. Tapi ia selalu menolak untuk
diajak kencan.
“Sorry, I can’t.”
“but tell me why
Ben?”
“Because, I’m Gay”
“oh, I’m Sorry to
hear that”
“Nope”
Ben Sebenarnya
bukan seorang gay. Ia hanya tidak suka kencan dengan perempuan. Ia juga tidak
pernah berkencan dengan lelaki. Ben adalah individualis yang sempurna. Baginya,
pacaran atau kencan hanya akan menjadi hambatan dia untuk mencapai apa yang ben
impikan. Apa yang ben inginkan. Itu tertanam dalam diri ben sejak kecil. Dan ia
tidak pernah mempunyai ikatan dengan siapapun. Dengan perempuan manapun. Untuk
meraih kesempurnaannya, ada yang harus dikorbankan. Dan itu adalah perasaan.
Ben tidak memiliki perasaan terhadap wanita. Dan anehnya, justru itu yang
membuat banyak wanita tertarik kepada ben. Karena ben begitu sempurna,
berprestasi, dan tidak pernah dekat dengan wanita. Meskipun ia selalu
mengatakan bahwa dia adalh gay kepadanya seluruh wanita yang menyukainya.
To be
continued.....
Kimberly: 3. Order dari NASA
Pagi hari menjelang.
Ben bangun mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantornya. Dengan setelan kemeja
berdasi dibalut jas abu-abu nan elegan menandakn dia siap untuk hari yang cerah
hari ini. seperti biasanya dia sarapan roti dan selai di pagi hari.
“pak ini laporan permintaan
lelang yang masuk.”
“Oh, oke, aku akan
memeriksanya.”
Ben lihat satu per
satu. Setiap harinya selalu ada permintaan untuk lelang ke kimberly auction.
Dan mata ben seakan tidak bisa berkedip ketika ada permintaan untuk melelang
kapal antariksa dari NASA.
“wait. What? NASA?”
Ya, krisis ekonomi
global membuat NASA harus terpaksa menjual beberapa pesawatnya. Angan ben
kembali ke masa lalunya. Di waktu kecil ia ingin sekali menjadi astronot. Dan
sekarang ben harus melelang kapal yang akan digunakan oleh astronot untuk
memeriksa antariksa. Wow. Adalah suatu kehormatan melakukan ini.
“Cheryl?”
“Yes, Sir.”
“ready for meeting
today?”
“Ok sir. I’ll
prepare it.”
Hari ini ben akan
mengadakan rapat rutin pagi hari untuk menanyakn kesiapan melelang untuk hari
ini. dan juga akan membahasa tentang pelelangan pesawat NASA.
“Ok. Good morning
all! We’ll discuss about today’s auction and an intresting order from NASA”
Ben mencoba
menjelaskan. Pertama-tama ben menanyakan kesiapan untuk lelang hari ini. hari
ini akan ada dua lelang. Pertama ada lelang untuk tanah dan bangunan di sebelah
slatan dari pusat kota new york. Sedangkan yang kedua adalh lelang untuk mobil
dari pabrik mobil terkemuka ferrari. Masing-masing tim yang akan melelang sudah
siap untuk lelang hari ini. berkas-berkas dan peminat pun sudah siap.
Sepertinya akan berjalan lacar.
“ok. Our second
discussion”
Ben mencoba
menjelaskan ada permintaan lelang pesawat dari NASA. Dan untuk itulah akan ada
tim yang akan datang ke NASA untuk meneliti barang yang akan dilelang tersebut.
Ben ikut tim tersebut. Masuk ke NASA adalah impian Ben. Sekalipun dia tidak
menjadi astronot ataupun bekerja di sana. Tapi ia akan bekerja sama dengan NASA
untuk melelang pesawat antariksa HG-20201 yang dibuat tahun 2006. Ben dan tim
nya sudah tidak sabar untuk melihat pesawat tersebut.
Rapat ditutup dan
ben kembali ke ruangannya.
Angan ben lagi-lagi
kembali ke masa lalunya. Ketika ia begitu bersemangat dan begitu ingin menjadi
astronot. Ben seperti tersedot dan terjebak di ruang nostalgia. Ada sedikit
kesedihan di hatinya. Tapi bagaimanapun keadaannya ben harus tetap profesional.
Ben tidak boleh terbawa egonya. Ben adalah direktur kimberly auction. Dan
tugasnya lah untuk menjaga kelangsungan kimberly auction. Tidak kuat rasanya
ben untuk handle proyek ini. tapi ben harus profesional. Dia adalah direktur
kimberly auction.
“you can do it
ben.”
Ben berkata pada
dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu.
Waktunya tiba untuk ben meneliti apa yang ada dalam pesawat itu sebelum ben
mengadakan open house untuk para peminat yang ingin melihat barangnya.
Pengumuman lelang ini sudah disebar melalui berbagai media massa. Dan juga dari
internet. Banyak kalangan yang ingin membeli pesawat antariksa ini, entah untuk
koleksi pribadi maupun koleksi museum. Tidak kalah juga negara-negara maju
seperti jerman, iran, jepang, juga berminat terhadap pesawat antariksa ini. ben
harus memutar otaknya dengan keras untuk kali ini.
Hari pelelangan
tiba. Seperti yang telah diduga, peminat lelang pesawat antariksa ini begitu bnyak.
Baik dari lokal maupn asing.
“ladies and
gentlemen, now lets start the auction!”
“from 10 million
dollar. Who will offer the price?”
“20 million dollar”
‘OK. 20 million
dollar. Any other offer?”
“30 million”
“30 million!”
“50 million!”
“fifty Million.”
“100 million!”
“ok. A hundred
million. Any offer?”
“one, “
“two”
“three”
“sold!”
“100 million dollar
bid from Mr. Greening from Germany”
Tepuk tangan meriah
bergemuruh di dalm ruangan tempat pelelangan tersebut. Akhirnya terjual. Ben
pun merasa senang. Ini merupakan salah satu profesionalitas yang ben miliki.
Meskipun itu berhubungan dengan impiannya di masa lalu.
********
Kimberly: 2. Keakuanku
2. Keakuanku
Kimberly Auction
adalah sebuah lembaga lelang di pusat kota New York. Berdiri di tahun 1970.
Dengan pendirinya Robert Will Smith. Kecintaannya terhadap dunia pelelangan
barang berharga membuatnya memulai untuk mendirikan sebuah balai lelang ternama
di kota new york. Di awal berdirinya Kimberly Auction hanya melelang properti
tanah dan bangunan. Namun seiring berjalannya waktu Kimberly Auction mengembangkan
pelelangannya menjadi lebih luas dengan menjual secara lelang mobil, motor,
lukisan, patung, pesawat, dsb. Sekarang seluruh penduduk new york pasti tahu
apa itu kimberly Auction. Tidak jarang Kimberly Auction melelang barang
berharga milik konglomerat yang hanya ada satu di dunia. Peminat pun begitu
banyak.
Kondisi
perekonomian AS yang sedang compang-camping akibat krisi global membuat banyak
orang melelang harta benda yang mereka miliki. Hal itu membuat order Kimberly
Auction semakin lama semakin banyak. Kadang ada beberapa harga dari barang yag
dilelang jatuh. Tapi sebagian besar terjual dengan memuaskan. Hal inilah yang
membuat Kimberly Auction tetap bisa bertahan dalam krisi global meskipun banyak
perusahaan yang collapse. Dan salah
satu aktor utama dari kesuksesan Kimberly Auction bertahan adalah Ben. Ben
adalah menusia perfeksionis. Dia selalu berusaha membuat apa yang ada di
sekitarnya terlihat sempurna. Ketika ada barang yang akan dilelang ia akan
meneliti dengan seksama barang. Ia amati secara detail satu per satu bagian.
Lalu ia catat lebih dan lemahnya. Dan ia bayangkan strategi untuk menjual
secarra lelang barang itu.
Yah, itulah sekilas
tentang pekerjaan Ben. Ia memandangi
langit. Memikirkan pekerjaan yang telah ia lakukan seharian ini. ia merogoh
kantong celananya. Menarik selembar kertas yang ia simpan dari tadi. Sebuah
tulisan dari seseorang yang ia kagumi. Seorang tokoh hebat yang menjadi panutan
dan pijakannya. Dan entah kenapa tulisan tokoh itu bisa memberinya energi yang
luar bisa untuk melanjutkan hidup. Untuk bersemangat dan berjuang dalam
kehidupannya. Ia membaca kembali tulisan itu. Tulisan yang selalu ia baca
setiap hari, di selembar kertas yang ia bawa tiap hari.
Aku
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku ingin hidup seribu tahun lagi
Kembali Ben
memandingi langit malam ini. langit dan suasana hiruk pikuk kota New York. Sambil
mengingat kembali bait-bait tulisan itu. Dari seorang pengarang yang karyanya
begitu hebat. Tapi umurnya begitu singkat.
“Ah, Chairil Anwar.
A wonderful thing”
Ben menghirup napas
dalam-dalam. Dan memandang. Ben berkata dalam hati. Aku yang egois. Aku yang individualis. Mungkin aku lebih egois daripada
pengarang ini. mungkin aku lebih individualis daripada sang megabintang sepak
bola Cristiano Ronaldo. Tapi aku adalah aku. Aku sempurna. Layaknya Cristiano
Ronaldo maupun Chairil Anwar. Aku sempurna dengan caraku sendiri. Aku sempurna
dengan jalanku sendiri.
Lamunan Ben
mengarahkan dia kembali ke masa lalunya. Ia selalu berpindah-pindah tempat.
Pertama tinggal di rumahnya. Lalu pindah ke Surabaya. Lalu ke Jakarta. Terakhir
ke New York. Menjadi seorang perantau tidaklah mudah. Penuh perjuangan. Harus
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan yang baru. Ben suka tantangan.
Sejak kecil ben selalu mengingat puisi aku chairil anwar. Dan puisi itulah yang
dijadikan ben sebagai pijakan untuk tetap bertahan hidup, untuk tetap teguh
pendirian, untuk mencapai apa yang dia inginkan kapanpun dan dimanapun dia
berada.
***********
Kimberly: 1. Angan Ben Kecil
Malam hari di
tengah pusat kota New York. Aku memandang dari dalam kaca gedung perusahaanku.
Aku mengarahkan pandanganku keluar melihat hiruk pikuk keramaian kota New York.
Yah, aku telah berada di sini. Aku telah mencapai dan menggenggam apa yang aku
inginkan. Aku direktur Kimberly Auction. Sebuah balai lelang ternama di New
York. Yang tiap harinya melelang barang-barang berharga. Bergerak maupun tidak
bergerak. Barang- barang prestisius yang akan dilelang pasti berada di sini.
Karena hasil nilai jual yang tinggi. Jutawan pun pasti sudah tau dengan nama
Kimberly Auction. Mereka banyak mendapat koleksi-koleksinya yang berharga dari balai
lelang ini. Yah, Kimberly Auction, No. 1 Prestigious Assets auction in New York.
Pikiranku kembali berputar
ke masa lalu. I’m Ben. Ben Smith. I’m
from Indonesia. Yah, Ben kecil
adalah seorang yang ambisius. Dia tidak pernah sadar dengan kemampuan yang dia
punya. Dia hanya anak kecil yang suka berkhayal. Suatu ketika, ben kecil
melihat iklan di TV. Dia melihat wanita kecil di iklan berkata, “aku ingin
menjadi astronot”. Pikiran Ben pun melamun. Astronot. Apa itu astronot?
“Ma, apa itu
astronot?”
“Astronot itu orang
yang menjelajah luar angkasa. Jika kamu jadi astronot, kamu bisa menjelajah ke
bulan.” Clara mencoba menjelaskan sesuatu kepada buah hati kecilnya itu.
“Wow, sounds good!”
Ben kecil lalu
membayangkan menjadi astronot. Menyenangkan sekali terbang di udara. Memakai
pakaian seperti tabung atau robot dan berjalan-jalan di atas bulan. Ah, sambil
memandangi bintang di langit dari luar rumahnya ben membayangkan menjadi
astronot. Menaiki pesawat luar angkasa, dan, keluar dari bumi, menuju
bulan, dan setelah berada di bulan, dia
akan berpose segagah mungkin. Dan fotonya di bulan akan terpampang di media
cetak seluruh dunia. “Amazing” .
Di perpustakaan
sekolah ben mulai mencari dan membaca cerita-cerita tentang antariksa, luar
angkasa, bintang-bintang, dan tentunya penjelajahan para astronot. Melihat
gambar-gambar antariksa dan astronot di buku cerita, Ben pun semakin kagum. Ben
pun menetapkan diri di hati. Suatu saat ketika aku besar, aku ingin menjadi
astronot. Aku akan bekerja di NASA, organisasi pengembangan pengetahuan antariksa
yang begitu terkenal di Amerika. Bahkan di seluruh dunia. Dan tiba-tiba ide
gila Ben kecil mulai muncul. Mimpi-mimpi Ben kecil mulai dirangkai. Yang
nantinya akan membawa dia ke raihan-raihan tingginya dalam hidup.
Ya, Ben kecil mulai
merencanakn sesuatu. Di usianya yang baru sebelas tahun, Ben kecil mulai
berdiri. Membawa mimpinya.
“Aku sekarang masih
SD. Aku ingin masuk SMP paling favorit di Surabaya. Setelahnya aku akan masuk SMA
paling favorit di Jakarta. Setelah itu aku akan melanjutkan kuliah beasiswa di New
York. Dan setelahnya aku akan bekerja di NASA. Dan ketika peluang itu datang,
aku akan menjadi astronot, aku akan mengikuti seleksi untuk menjadi sukarelawan
astronot untuk diterbangkan ke planet manapun. Yah, ini dia, my dream. Astronot. Aku ingin menjadi
astronot. Ben ingin menjadi astronot. Ben adalah astronot.”
Dan sebelum tidur, Ben
mengucap sendiri di dalam kamarnya. “Ben akan menjadi astronot. Yeah, Ben
adalah astronot masa depan.”
Sejak ikrar di
dirinya itu, Ben menjadi rajin belajar. Ia ingin menempuh impiannya untuk
menjadi astronot itu dari jalur akademis. Sebentar lagi ujian nasional SD.
Tepatnya setahun lagi. Ben pun mulai menyiapkan diri. Tujuannya sekarang adalah
menembus SMP terfavorit di Surabaya. Karena itu nilainya pun harus bagus.
Setahun berlalu.
Dengan usaha terus-menerus dan tak kenal lelah Ben, akhirnya Ben lulus dengan
nilai terbaik di sekolahnya. Dan ia pun berkata kepada keluarganya bahwa ia
ingin sekolah di SMP no. 1 di kota Surabaya.
“Ben ingin jadi
astronot. Jadi Ben ingin masuk sekolah no. 1. Ben ingin jadi no. 1 biar bisa
jadi astronot”
Clara dan Clark pun
tak percaya anaknya begitu ambisius seperti itu.
“Oke. Kalo itu
maumu, papa akan daftarkan kamu untuk ikut ujian masuknya. Tapi kamu harus
berjanji untuk rajin belajar dan tidak boleh mengecewakan papa dalam hal
prestasi akademis.”
“Ben janji Pa.”
Ben akhirnya
mendaftar di SMP 5 Surabaya. Ia ikut ujiannya. Ben begitu antusias. Ya. Dan
inilah target pertama Ben untuk mencapai impian itu. Untuk menjadi astronot. Ia
rajin belajar. Menyiapkan materi-materi yang akan diujikan. Ia begitu siap
untuk ujian. Ben yang ambisius siap.
Pengumuman tiba.
Dan, Ben masuk. Ben diterima di SMP 5 Surabaya. Yey. Ben pun melonjak-lonjak
kegirangan. Satu ambisinya tercapai.
Tiga tahun begitu
cepat berlalu. Ben tetaplah seorang Ben yang ambisius. Ben selalu menceritakan
keinginannya untuk menjadi astronot kepada teman-temannya. Ia akan bekerja di
NASA. Ia adalah astronot masa depan. Mendengar itu teman-temannya hanya
tertawa. Mereka pikir Ben sudah gila. Tidak realistis.
Ben tidak peduli
komentar teman-temannya. Sudah saatnya untuk fight yang kedua. Menembus SMA paling favorit di Jakarta. Ben yang
tiap harinya sudah rajin belajar meningkatkan lagi level belajarnya. Kali ini
harus tercapai. Ia ingin melanjutkan ke sekolah favorit di Jakarta.
Dan ujian akhir SMP
terlewati. Ben mendapatkan nilai yang memuaskan. Ben merasa siap untuk
melanjutkan pendidikannya di Jakarta.
“Ben ingin sekolah
di sekolah favorit di Jakarta Pa. Ben ingin menjadi Astronot. “
Dengan senyum kecil
Clark bertanya, “Apa kamu siap?”
“Ya, Ben sangat
siap”
“Oke Ben.
Perkembanganmu bagus. Jangan kecewakan papa.”
Ben mendaftar di
sekolah favoritnya di Jakarta. Ben yang selalu rajin belajar berusaha untuk
mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk bisa menembus SMA favorit di Jakarta.
Dengan susah payah
akhirnya Ben masuk SMA favorit di Jakarta. Ya, SMA 5 Jakarta. Ben menyimpan
ambisinya. Target keduanya berhasil diraih. Dan satu keinginan lagi. Kuliah di New
York.
Dua tahun berlalu.
Ben mulai menyadari ia kurang bisa sempurna di pelajaran Fisika. Padahal itu
adalah kunci utama untuk menjadi astronot. Kunci utama untuk masuk NASA. Hal
yang begitu diinginkannya. Ben mulai mencari info beasiswa luar negeri untuk
melanjutkan kuliahnya. Ia ingin kuliah di New York. Ia mendaftar ujian masuk
MIT. Tapi, entah kenapa, untuk kali ini Ben kurang yakin. Ben itu sempurna. Dan
jarang ia merasa kurang yakin dengan apa yang akan dilakukannya.
Lalu Ben membuat
alternatif pilihan. Dia mendaftar beasiswa untuk melanjutkan kuliah Faculty Of Law di New York University. Entahlah, tapi Ben merasa yakin untuk yang
ini. Ben sudah mengatakan kepada orang tuanya untuk melanjutkan kuiah di luar
negeri. Ia ingin melanjutkan kuliah di New York.
Orang tua Ben hanya
mengiyakan saja keinginan Ben. Mereka benar-benar tertarik melihat Ben yang
tumbuh semakin ambisius dan berprestasi. Kemampuannya bagus. Itulah yang
dilihat oleh Clara dan Clark.
Ben Lulus SMA.
Memuaskan. Dan ia diterima di New York University setelah perjalanan panjang
yang begitu menguras otak dan tenaga untuk meraih apa yang dia inginkan itu.
Sayang sekali untuk di Massachussets
Institute of Technology dia tidak masuk. Dan untuk pertama kalinya Ben
tidak meraih hasil yang diinginkannya. Ben berpikir, tak apalah. Dia tetap akan
kuliah di New York, dia mendapat beasiswa, dan dia akan menikmati kehidupan New
York.
Ben melihat jam
tangannya. 9.30 p.m. Sudah jam setengah 10 malam. Di kantornya. Ben melihat
kembali kilas balik masa lalunya. Ben yang sempurna. Itulah dia. Di kuliah pun Ben
selalu berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dan ia lulus dengan predikat cum laude dari New York University.
Waktu begitu cepat
berlalu. Sekarang Ben telah berkepala dua. Direktur di perusahaan ini. Ia
selalu rajin dalam segala sesuatunya. Ia berusaha agar segala sesuatunya
berjalan sempurna seperti apa yang diinginkannya.
Ia merasakan
kenikmatan malam hari ini setelah berhasil melelang lukisan ternama Lady Mc
Guirre karya Adolfo Souzano. Lukisan itu terjual dengan harga 200 juta Dollar.
“Mr. Ben Smith, congratulations. You have
sold it. Thank You”
“No Problem. Its a good drawing. Wonderful
drawing”
“Your work is flawless.”
“Oh, thanks.”
Ben menikmati pesta
kecil ini. pesta kecil atas terjualnya salah satu lukisan mahakarya ternama.
Dia menggumam
sendiri, “So, what next?”
**********
Langganan:
Komentar (Atom)