Rabu, 07 November 2012

Kimberly: 4. Girl? Sorry I’m Gay



Nikita, teman SD Ben, duduk-duk melamun sambil memandang langit dari dalam jendela. Ia membayangkan ben yang telah tumbuh dewasa.
“Ben, you are wonderful, talented, i miss u so much. I love you.”
Dengan senyum-senyum sendiri ia terus memandangi langit sambil membayangkan Ben.
Di Surabaya, Sarah melamun di tempat kerjanya. Membayangkan sosok ben temn smp dia. Dia gila, ambisius, dan menakjubkan.
“Ben, kamu harus tahu, aku sayang banget ma kamu.”
Sarah melanjutkan lamunannya.
Di Jakarta, Grace dengan gaya glamornya, sedang mengangan-angankan teman sma nya ben. Yang menurutnya sensaional. Acuh dan berprestasi.
“Ben, kamu sensasional. Aku cinta mati ma kamu.”
Grace terenyum-senyum membayangkan Ben sambil mengaduk minuman yang telah di pesannya.
Lamunan ketiganya tiba-tiba teringat pada perkataan Ben yang memupuskan harapan mereka.
“Girl? Sorry I’m Gay”
Keterkejutan itu membuat mereka garuk-garuk kepala. Pria yang sempurna. Tapi sayangnya gay. Meskipun begitu mereka tetap saja tiada henti membayangkan ben. Dan berharap ben bukanlah gay. Meskipun mereka juga bertanya-tanya, karena belum pernah melihat ben bermesraan dengan lelaki. Tapi memang Ben tidak pernah kencan dengan seorang perempuan pun.
Ya, itulah ben. Dalam urusan wanita dan percintaan, dia selalu berkata, “Girl? Sorry, I’m Gay”
Dan perkataan itu terbukti efektif untuk membuat wanita-wanita yang menyukainya perlahan-lahan mundur teratur.
Di New York pun tak sedikit yang menyukai ataupun mengagumi Ben. Tapi ia selalu menolak untuk diajak kencan.
“Sorry, I can’t.”
“but tell me why Ben?”
“Because, I’m Gay”
“oh, I’m Sorry to hear that”
“Nope”
Ben Sebenarnya bukan seorang gay. Ia hanya tidak suka kencan dengan perempuan. Ia juga tidak pernah berkencan dengan lelaki. Ben adalah individualis yang sempurna. Baginya, pacaran atau kencan hanya akan menjadi hambatan dia untuk mencapai apa yang ben impikan. Apa yang ben inginkan. Itu tertanam dalam diri ben sejak kecil. Dan ia tidak pernah mempunyai ikatan dengan siapapun. Dengan perempuan manapun. Untuk meraih kesempurnaannya, ada yang harus dikorbankan. Dan itu adalah perasaan. Ben tidak memiliki perasaan terhadap wanita. Dan anehnya, justru itu yang membuat banyak wanita tertarik kepada ben. Karena ben begitu sempurna, berprestasi, dan tidak pernah dekat dengan wanita. Meskipun ia selalu mengatakan bahwa dia adalh gay kepadanya seluruh wanita yang menyukainya.
To be continued.....

Kimberly: 3. Order dari NASA



Pagi hari menjelang. Ben bangun mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantornya. Dengan setelan kemeja berdasi dibalut jas abu-abu nan elegan menandakn dia siap untuk hari yang cerah hari ini. seperti biasanya dia sarapan roti dan selai di pagi hari.
“pak ini laporan permintaan lelang yang masuk.”
“Oh, oke, aku akan memeriksanya.”
Ben lihat satu per satu. Setiap harinya selalu ada permintaan untuk lelang ke kimberly auction. Dan mata ben seakan tidak bisa berkedip ketika ada permintaan untuk melelang kapal antariksa dari NASA.
“wait. What? NASA?”
Ya, krisis ekonomi global membuat NASA harus terpaksa menjual beberapa pesawatnya. Angan ben kembali ke masa lalunya. Di waktu kecil ia ingin sekali menjadi astronot. Dan sekarang ben harus melelang kapal yang akan digunakan oleh astronot untuk memeriksa antariksa. Wow. Adalah suatu kehormatan melakukan ini.
“Cheryl?”
“Yes, Sir.”
“ready for meeting today?”
“Ok sir. I’ll prepare it.”
Hari ini ben akan mengadakan rapat rutin pagi hari untuk menanyakn kesiapan melelang untuk hari ini. dan juga akan membahasa tentang pelelangan pesawat NASA.
“Ok. Good morning all! We’ll discuss about today’s auction and an intresting order from NASA”
Ben mencoba menjelaskan. Pertama-tama ben menanyakan kesiapan untuk lelang hari ini. hari ini akan ada dua lelang. Pertama ada lelang untuk tanah dan bangunan di sebelah slatan dari pusat kota new york. Sedangkan yang kedua adalh lelang untuk mobil dari pabrik mobil terkemuka ferrari. Masing-masing tim yang akan melelang sudah siap untuk lelang hari ini. berkas-berkas dan peminat pun sudah siap. Sepertinya akan berjalan lacar.
“ok. Our second discussion”
Ben mencoba menjelaskan ada permintaan lelang pesawat dari NASA. Dan untuk itulah akan ada tim yang akan datang ke NASA untuk meneliti barang yang akan dilelang tersebut. Ben ikut tim tersebut. Masuk ke NASA adalah impian Ben. Sekalipun dia tidak menjadi astronot ataupun bekerja di sana. Tapi ia akan bekerja sama dengan NASA untuk melelang pesawat antariksa HG-20201 yang dibuat tahun 2006. Ben dan tim nya sudah tidak sabar untuk melihat pesawat tersebut.
Rapat ditutup dan ben kembali ke ruangannya.
Angan ben lagi-lagi kembali ke masa lalunya. Ketika ia begitu bersemangat dan begitu ingin menjadi astronot. Ben seperti tersedot dan terjebak di ruang nostalgia. Ada sedikit kesedihan di hatinya. Tapi bagaimanapun keadaannya ben harus tetap profesional. Ben tidak boleh terbawa egonya. Ben adalah direktur kimberly auction. Dan tugasnya lah untuk menjaga kelangsungan kimberly auction. Tidak kuat rasanya ben untuk handle proyek ini. tapi ben harus profesional. Dia adalah direktur kimberly auction.
“you can do it ben.”
Ben berkata pada dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu. Waktunya tiba untuk ben meneliti apa yang ada dalam pesawat itu sebelum ben mengadakan open house untuk para peminat yang ingin melihat barangnya. Pengumuman lelang ini sudah disebar melalui berbagai media massa. Dan juga dari internet. Banyak kalangan yang ingin membeli pesawat antariksa ini, entah untuk koleksi pribadi maupun koleksi museum. Tidak kalah juga negara-negara maju seperti jerman, iran, jepang, juga berminat terhadap pesawat antariksa ini. ben harus memutar otaknya dengan keras untuk kali ini.
Hari pelelangan tiba. Seperti yang telah diduga, peminat lelang pesawat antariksa ini begitu bnyak. Baik dari lokal maupn asing.
“ladies and gentlemen, now lets start the auction!”
“from 10 million dollar. Who will offer the price?”
“20 million dollar”
‘OK. 20 million dollar. Any other offer?”
“30 million”
“30 million!”
“50 million!”
“fifty Million.”
“100 million!”
“ok. A hundred million. Any offer?”
“one, “
“two”
“three”
“sold!”
“100 million dollar bid from Mr. Greening from Germany”
Tepuk tangan meriah bergemuruh di dalm ruangan tempat pelelangan tersebut. Akhirnya terjual. Ben pun merasa senang. Ini merupakan salah satu profesionalitas yang ben miliki. Meskipun itu berhubungan dengan impiannya di masa lalu.
********

Kimberly: 2. Keakuanku


2. Keakuanku
Kimberly Auction adalah sebuah lembaga lelang di pusat kota New York. Berdiri di tahun 1970. Dengan pendirinya Robert Will Smith. Kecintaannya terhadap dunia pelelangan barang berharga membuatnya memulai untuk mendirikan sebuah balai lelang ternama di kota new york. Di awal berdirinya Kimberly Auction hanya melelang properti tanah dan bangunan. Namun seiring berjalannya waktu Kimberly Auction mengembangkan pelelangannya menjadi lebih luas dengan menjual secara lelang mobil, motor, lukisan, patung, pesawat, dsb. Sekarang seluruh penduduk new york pasti tahu apa itu kimberly Auction. Tidak jarang Kimberly Auction melelang barang berharga milik konglomerat yang hanya ada satu di dunia. Peminat pun begitu banyak.
Kondisi perekonomian AS yang sedang compang-camping akibat krisi global membuat banyak orang melelang harta benda yang mereka miliki. Hal itu membuat order Kimberly Auction semakin lama semakin banyak. Kadang ada beberapa harga dari barang yag dilelang jatuh. Tapi sebagian besar terjual dengan memuaskan. Hal inilah yang membuat Kimberly Auction tetap bisa bertahan dalam krisi global meskipun banyak perusahaan yang collapse. Dan salah satu aktor utama dari kesuksesan Kimberly Auction bertahan adalah Ben. Ben adalah menusia perfeksionis. Dia selalu berusaha membuat apa yang ada di sekitarnya terlihat sempurna. Ketika ada barang yang akan dilelang ia akan meneliti dengan seksama barang. Ia amati secara detail satu per satu bagian. Lalu ia catat lebih dan lemahnya. Dan ia bayangkan strategi untuk menjual secarra lelang barang itu.
Yah, itulah sekilas tentang pekerjaan Ben. Ia  memandangi langit. Memikirkan pekerjaan yang telah ia lakukan seharian ini. ia merogoh kantong celananya. Menarik selembar kertas yang ia simpan dari tadi. Sebuah tulisan dari seseorang yang ia kagumi. Seorang tokoh hebat yang menjadi panutan dan pijakannya. Dan entah kenapa tulisan tokoh itu bisa memberinya energi yang luar bisa untuk melanjutkan hidup. Untuk bersemangat dan berjuang dalam kehidupannya. Ia membaca kembali tulisan itu. Tulisan yang selalu ia baca setiap hari, di selembar kertas yang ia bawa tiap hari.
Aku
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku ingin hidup seribu tahun lagi 
Kembali Ben memandingi langit malam ini. langit dan suasana hiruk pikuk kota New York. Sambil mengingat kembali bait-bait tulisan itu. Dari seorang pengarang yang karyanya begitu hebat. Tapi umurnya begitu singkat.
“Ah, Chairil Anwar. A wonderful thing”
Ben menghirup napas dalam-dalam. Dan memandang. Ben berkata dalam hati. Aku yang egois. Aku yang individualis. Mungkin aku lebih egois daripada pengarang ini. mungkin aku lebih individualis daripada sang megabintang sepak bola Cristiano Ronaldo. Tapi aku adalah aku. Aku sempurna. Layaknya Cristiano Ronaldo maupun Chairil Anwar. Aku sempurna dengan caraku sendiri. Aku sempurna dengan jalanku sendiri.
Lamunan Ben mengarahkan dia kembali ke masa lalunya. Ia selalu berpindah-pindah tempat. Pertama tinggal di rumahnya. Lalu pindah ke Surabaya. Lalu ke Jakarta. Terakhir ke New York. Menjadi seorang perantau tidaklah mudah. Penuh perjuangan. Harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan yang baru. Ben suka tantangan. Sejak kecil ben selalu mengingat puisi aku chairil anwar. Dan puisi itulah yang dijadikan ben sebagai pijakan untuk tetap bertahan hidup, untuk tetap teguh pendirian, untuk mencapai apa yang dia inginkan kapanpun dan dimanapun dia berada.
***********

Kimberly: 1. Angan Ben Kecil


Malam hari di tengah pusat kota New York. Aku memandang dari dalam kaca gedung perusahaanku. Aku mengarahkan pandanganku keluar melihat hiruk pikuk keramaian kota New York. Yah, aku telah berada di sini. Aku telah mencapai dan menggenggam apa yang aku inginkan. Aku direktur Kimberly Auction. Sebuah balai lelang ternama di New York. Yang tiap harinya melelang barang-barang berharga. Bergerak maupun tidak bergerak. Barang- barang prestisius yang akan dilelang pasti berada di sini. Karena hasil nilai jual yang tinggi. Jutawan pun pasti sudah tau dengan nama Kimberly Auction. Mereka banyak mendapat koleksi-koleksinya yang berharga dari balai lelang ini. Yah, Kimberly Auction,  No. 1 Prestigious Assets auction in New York.
Pikiranku kembali berputar ke masa lalu. I’m Ben. Ben Smith. I’m from Indonesia.  Yah, Ben kecil adalah seorang yang ambisius. Dia tidak pernah sadar dengan kemampuan yang dia punya. Dia hanya anak kecil yang suka berkhayal. Suatu ketika, ben kecil melihat iklan di TV. Dia melihat wanita kecil di iklan berkata, “aku ingin menjadi astronot”. Pikiran Ben pun melamun. Astronot. Apa itu astronot?
“Ma, apa itu astronot?”
“Astronot itu orang yang menjelajah luar angkasa. Jika kamu jadi astronot, kamu bisa menjelajah ke bulan.” Clara mencoba menjelaskan sesuatu kepada buah hati kecilnya itu.
“Wow, sounds good!”
Ben kecil lalu membayangkan menjadi astronot. Menyenangkan sekali terbang di udara. Memakai pakaian seperti tabung atau robot dan berjalan-jalan di atas bulan. Ah, sambil memandangi bintang di langit dari luar rumahnya ben membayangkan menjadi astronot. Menaiki pesawat luar angkasa, dan, keluar dari bumi, menuju bulan,  dan setelah berada di bulan, dia akan berpose segagah mungkin. Dan fotonya di bulan akan terpampang di media cetak seluruh dunia. “Amazing” .
Di perpustakaan sekolah ben mulai mencari dan membaca cerita-cerita tentang antariksa, luar angkasa, bintang-bintang, dan tentunya penjelajahan para astronot. Melihat gambar-gambar antariksa dan astronot di buku cerita, Ben pun semakin kagum. Ben pun menetapkan diri di hati. Suatu saat ketika aku besar, aku ingin menjadi astronot. Aku akan bekerja di NASA, organisasi pengembangan pengetahuan antariksa yang begitu terkenal di Amerika. Bahkan di seluruh dunia. Dan tiba-tiba ide gila Ben kecil mulai muncul. Mimpi-mimpi Ben kecil mulai dirangkai. Yang nantinya akan membawa dia ke raihan-raihan tingginya dalam hidup.
Ya, Ben kecil mulai merencanakn sesuatu. Di usianya yang baru sebelas tahun, Ben kecil mulai berdiri. Membawa mimpinya.
“Aku sekarang masih SD. Aku ingin masuk SMP paling favorit di Surabaya. Setelahnya aku akan masuk SMA paling favorit di Jakarta. Setelah itu aku akan melanjutkan kuliah beasiswa di New York. Dan setelahnya aku akan bekerja di NASA. Dan ketika peluang itu datang, aku akan menjadi astronot, aku akan mengikuti seleksi untuk menjadi sukarelawan astronot untuk diterbangkan ke planet manapun. Yah, ini dia, my dream. Astronot. Aku ingin menjadi astronot. Ben ingin menjadi astronot. Ben adalah astronot.”
Dan sebelum tidur, Ben mengucap sendiri di dalam kamarnya. “Ben akan menjadi astronot. Yeah, Ben adalah astronot masa depan.”
Sejak ikrar di dirinya itu, Ben menjadi rajin belajar. Ia ingin menempuh impiannya untuk menjadi astronot itu dari jalur akademis. Sebentar lagi ujian nasional SD. Tepatnya setahun lagi. Ben pun mulai menyiapkan diri. Tujuannya sekarang adalah menembus SMP terfavorit di Surabaya. Karena itu nilainya pun harus bagus.
Setahun berlalu. Dengan usaha terus-menerus dan tak kenal lelah Ben, akhirnya Ben lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya. Dan ia pun berkata kepada keluarganya bahwa ia ingin sekolah di SMP no. 1 di kota Surabaya.
“Ben ingin jadi astronot. Jadi Ben ingin masuk sekolah no. 1. Ben ingin jadi no. 1 biar bisa jadi astronot”
Clara dan Clark pun tak percaya anaknya begitu ambisius seperti itu.
“Oke. Kalo itu maumu, papa akan daftarkan kamu untuk ikut ujian masuknya. Tapi kamu harus berjanji untuk rajin belajar dan tidak boleh mengecewakan papa dalam hal prestasi akademis.”
“Ben janji Pa.”
Ben akhirnya mendaftar di SMP 5 Surabaya. Ia ikut ujiannya. Ben begitu antusias. Ya. Dan inilah target pertama Ben untuk mencapai impian itu. Untuk menjadi astronot. Ia rajin belajar. Menyiapkan materi-materi yang akan diujikan. Ia begitu siap untuk ujian. Ben yang ambisius siap.
Pengumuman tiba. Dan, Ben masuk. Ben diterima di SMP 5 Surabaya. Yey. Ben pun melonjak-lonjak kegirangan. Satu ambisinya tercapai.
Tiga tahun begitu cepat berlalu. Ben tetaplah seorang Ben yang ambisius. Ben selalu menceritakan keinginannya untuk menjadi astronot kepada teman-temannya. Ia akan bekerja di NASA. Ia adalah astronot masa depan. Mendengar itu teman-temannya hanya tertawa. Mereka pikir Ben sudah gila. Tidak realistis.
Ben tidak peduli komentar teman-temannya. Sudah saatnya untuk fight yang kedua. Menembus SMA paling favorit di Jakarta. Ben yang tiap harinya sudah rajin belajar meningkatkan lagi level belajarnya. Kali ini harus tercapai. Ia ingin melanjutkan ke sekolah favorit di Jakarta.
Dan ujian akhir SMP terlewati. Ben mendapatkan nilai yang memuaskan. Ben merasa siap untuk melanjutkan pendidikannya di Jakarta.
“Ben ingin sekolah di sekolah favorit di Jakarta Pa. Ben ingin menjadi Astronot. “
Dengan senyum kecil Clark bertanya, “Apa kamu siap?”
“Ya, Ben sangat siap”
“Oke Ben. Perkembanganmu bagus. Jangan kecewakan papa.”
Ben mendaftar di sekolah favoritnya di Jakarta. Ben yang selalu rajin belajar berusaha untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk bisa menembus SMA favorit di Jakarta.
Dengan susah payah akhirnya Ben masuk SMA favorit di Jakarta. Ya, SMA 5 Jakarta. Ben menyimpan ambisinya. Target keduanya berhasil diraih. Dan satu keinginan lagi. Kuliah di New York.
Dua tahun berlalu. Ben mulai menyadari ia kurang bisa sempurna di pelajaran Fisika. Padahal itu adalah kunci utama untuk menjadi astronot. Kunci utama untuk masuk NASA. Hal yang begitu diinginkannya. Ben mulai mencari info beasiswa luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Ia ingin kuliah di New York. Ia mendaftar ujian masuk MIT. Tapi, entah kenapa, untuk kali ini Ben kurang yakin. Ben itu sempurna. Dan jarang ia merasa kurang yakin dengan apa yang akan dilakukannya.
Lalu Ben membuat alternatif pilihan. Dia mendaftar beasiswa untuk melanjutkan kuliah Faculty Of Law di New York University. Entahlah, tapi Ben merasa yakin untuk yang ini. Ben sudah mengatakan kepada orang tuanya untuk melanjutkan kuiah di luar negeri. Ia ingin melanjutkan kuliah di New York.
Orang tua Ben hanya mengiyakan saja keinginan Ben. Mereka benar-benar tertarik melihat Ben yang tumbuh semakin ambisius dan berprestasi. Kemampuannya bagus. Itulah yang dilihat oleh Clara dan Clark.
Ben Lulus SMA. Memuaskan. Dan ia diterima di New York University setelah perjalanan panjang yang begitu menguras otak dan tenaga untuk meraih apa yang dia inginkan itu. Sayang sekali untuk di Massachussets Institute of Technology dia tidak masuk. Dan untuk pertama kalinya Ben tidak meraih hasil yang diinginkannya. Ben berpikir, tak apalah. Dia tetap akan kuliah di New York, dia mendapat beasiswa, dan dia akan menikmati kehidupan New York.
Ben melihat jam tangannya. 9.30 p.m. Sudah jam setengah 10 malam. Di kantornya. Ben melihat kembali kilas balik masa lalunya. Ben yang sempurna. Itulah dia. Di kuliah pun Ben selalu berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dan ia lulus dengan predikat cum laude dari New York University.
Waktu begitu cepat berlalu. Sekarang Ben telah berkepala dua. Direktur di perusahaan ini. Ia selalu rajin dalam segala sesuatunya. Ia berusaha agar segala sesuatunya berjalan sempurna seperti apa yang diinginkannya.
Ia merasakan kenikmatan malam hari ini setelah berhasil melelang lukisan ternama Lady Mc Guirre karya Adolfo Souzano. Lukisan itu terjual dengan harga 200 juta Dollar.
Mr. Ben Smith, congratulations. You have sold it. Thank You
No Problem. Its a good drawing. Wonderful drawing
Your work is flawless.”
Oh, thanks.”
Ben menikmati pesta kecil ini. pesta kecil atas terjualnya salah satu lukisan mahakarya ternama.
Dia menggumam sendiri, “So, what next?”
**********