Nikita, teman SD
Ben, duduk-duk melamun sambil memandang langit dari dalam jendela. Ia membayangkan
ben yang telah tumbuh dewasa.
“Ben, you are
wonderful, talented, i miss u so much. I love you.”
Dengan
senyum-senyum sendiri ia terus memandangi langit sambil membayangkan Ben.
Di Surabaya, Sarah
melamun di tempat kerjanya. Membayangkan sosok ben temn smp dia. Dia gila,
ambisius, dan menakjubkan.
“Ben, kamu harus
tahu, aku sayang banget ma kamu.”
Sarah melanjutkan
lamunannya.
Di Jakarta, Grace
dengan gaya glamornya, sedang mengangan-angankan teman sma nya ben. Yang
menurutnya sensaional. Acuh dan berprestasi.
“Ben, kamu
sensasional. Aku cinta mati ma kamu.”
Grace
terenyum-senyum membayangkan Ben sambil mengaduk minuman yang telah di
pesannya.
Lamunan ketiganya
tiba-tiba teringat pada perkataan Ben yang memupuskan harapan mereka.
“Girl? Sorry I’m
Gay”
Keterkejutan itu
membuat mereka garuk-garuk kepala. Pria yang sempurna. Tapi sayangnya gay.
Meskipun begitu mereka tetap saja tiada henti membayangkan ben. Dan berharap
ben bukanlah gay. Meskipun mereka juga bertanya-tanya, karena belum pernah
melihat ben bermesraan dengan lelaki. Tapi memang Ben tidak pernah kencan
dengan seorang perempuan pun.
Ya, itulah ben.
Dalam urusan wanita dan percintaan, dia selalu berkata, “Girl? Sorry, I’m Gay”
Dan perkataan itu
terbukti efektif untuk membuat wanita-wanita yang menyukainya perlahan-lahan
mundur teratur.
Di New York pun tak
sedikit yang menyukai ataupun mengagumi Ben. Tapi ia selalu menolak untuk
diajak kencan.
“Sorry, I can’t.”
“but tell me why
Ben?”
“Because, I’m Gay”
“oh, I’m Sorry to
hear that”
“Nope”
Ben Sebenarnya
bukan seorang gay. Ia hanya tidak suka kencan dengan perempuan. Ia juga tidak
pernah berkencan dengan lelaki. Ben adalah individualis yang sempurna. Baginya,
pacaran atau kencan hanya akan menjadi hambatan dia untuk mencapai apa yang ben
impikan. Apa yang ben inginkan. Itu tertanam dalam diri ben sejak kecil. Dan ia
tidak pernah mempunyai ikatan dengan siapapun. Dengan perempuan manapun. Untuk
meraih kesempurnaannya, ada yang harus dikorbankan. Dan itu adalah perasaan.
Ben tidak memiliki perasaan terhadap wanita. Dan anehnya, justru itu yang
membuat banyak wanita tertarik kepada ben. Karena ben begitu sempurna,
berprestasi, dan tidak pernah dekat dengan wanita. Meskipun ia selalu
mengatakan bahwa dia adalh gay kepadanya seluruh wanita yang menyukainya.
To be
continued.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar