Selasa, 26 Maret 2013

Debur Laut

Semilir angin
Bertautan ombak
Mengharu biru
Biru, sebiru hatiku

Tatap mata ini melangkah
Melihat laut
Desir-desir bersyair

Kupejamkan mata
Nikmati laut ini
Rambut terurai menari

Duduk ku di bawah sang kelapa
Hidupi hari ini
Terik matahari teduh

Angin
Biarkan aku tertidur di pantai ini
Bangunkan aku nanti
Nanti saja

Malam
Temani aku kali ini
Sembari tersenyum
Nyeyakkan aku

Wake me up
When
September end


By:
Yang terhempas deru campur butiran debu
Sekali berarti habis itu mati
Diam bersuara, go ahead
Chairil 'Toni' Anwar

Jelita

Wahai dara cantik
Tak jemu mata ini memandang
Aliran darah ini bergelombang
Truslah jadi matahari
Matahari yang menyinari

Wahai bidadari cantik
Tlah lama kita berjumpa
Dipertemukan hal-hal diluar naluri
Memberi banyak arti
Kadang dunia sulit dimengerti

Cantik
Percayalah
Banyak hari yang kan kita nikmati
Memutari bumi ini
Menembus ruang dan waktu


By:
Yang terhempas deru campur butiran debu
sekali berarti habis itu mati
diam bersuara, go ahead
Chairil ‘Toni’ Anwar

D Pagi

Kurasakan embun biru
Di tepi pantai
Udara segar menyapa
Matahari diam-diam mengintip
Push up aku tiga kali

Kunikmati secangkir kopi
Dengan alunan bait-bait puisi
Gado-gado telah menanti
Mata elang siap mengintai

Pagi ini
Wajah-wajah surga menghiasi

Strategi

Ni naskah cerita dalam drama singkat waktu prajab kemarin. Bentuknya puisi. cekidot.

Strategi


Intro:
Pagi ini kabut begitu kelam
Tarian mendung hitam mendaki
Di liang pemakaman
Mastur menangis meratap
Meratapi seekor kucing nan lucu
Diam kaku
Dia tlah pergi

Mastur menangis
Melihat secarik surat
Surat dari sang kucing
Dengan isi:
‘Mastur, kalau sampai  waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Selamat tinggal
Kucingmu’


Freeze:
Mastur, terimalah apa adanya
Kucingmu tlah pergi
Tinggalkan kau sendiri
Ada Dedek yang berempati
Atau Wahyu yang keras memaki

Pucuk dicinta ulam pun tiba
Kucing mati biarlah pergi
Karna ada pengganti
Gadis cantik jelita menanti
Oh gadis, biarlah lelaki ini mengenalmu


Epilog:
Cinta itu butuh strategi
Mastur mengevaluasi
Dedek mendeskripsi
Wahyu spontan
Menunggu kepastian sang dara
Ratih, Dias, mengapa kalian begitu cepat lari
Dengan keterbukaan ataupun ketertutupan


Lebak Bulus, 13 Maret 2013

By:
Yang terhempas deru campur butiran debu
sekali berarti habis itu mati
diam bersuara, go ahead
Chairil ‘Toni’ Anwar

Lalu Lalang

“Don?”
“Yes?”
“Maen yok?”
“Ke mana?”
“Ke hatimu”
“Maho lo”
***
Doni dan Ruby adalah dua orang sahabat. Kemana-mana mereka selalu bersama. Dan karena terlalu seringnya mereka bersama, mereka sering dibilang pasangan maho.
Doni dan Ruby lagi duduk-duduk di Starbucks.
“Don, cewek cakep cuy...”
“Yang mana si?”
“Itu arah jam 1 yang pake baju pink.”
“Halah, biasa itu. Rate 3 deh”
“Yah kek gitu bintang 3? Bintang 4 lah.”
“Enggak, bintang 3.”
“Bintang 3 tapi lok dikasi mau juga kan lo?”
“Ya iyalah rejeki ngapain ditolak”
“Hu, muna lo”
Mereka berdua tertawa.
“Kalo cewek baju ungu arah jam 9 gimana Don?”
Doni menengok. Sejenak dia terpana.
“Itu, bidadari turun dari kayangan.”
“Raisa”
“Dian Sastro”
Mulai dah Ruby dan Doni memirip-miripkan wajah cewek itu dengan artis idolanya. Lok di kaskus mata kedua cowok ini udah matabelo :matabelo :matabelo.
“Rate 5 Rub”
“Rate 10 Don”
“Yah elo, kan sampe 5 aj ratenya”
“Ini kan extraordinary cuy.”
“Haha”
***