Selasa, 25 Desember 2012

Biru Embun


By Binjalang

Bunga tercipta untuk mekar
Daun di musim gugur berjatuhan
Tapi di musim semi daun akan tumbuh lagi
Seperti air beriak di sungai
Alirannya berjalan terus
Sampai menemukan titik muara
Bumi bulat
Terus bergulir menggelinding
Laju bola apapun dan bagaimanapun selalu maju
Tak mungkin mundur


“Pri..”
“Hm?”
Pri bangun. Serasa dibangunkan. Tapi tak ada yang membangunkannya.
“Sudah pagi ya.”
Matanya menerawang melihat ke jendela.
“Saatnya bangun Pri. Ayo bangun, waktunya kerja.”
Dengan mulet sedikit,
“Satu, dua, tiga, empat, lima,........, enam puluh, bangun!”
Handuk diambil dan pergilah ia ke kamar mandi.
Pergilah kasih kejarlah keinginanmu. Selagi masih ada waktu. Jangan hiraukan diriku.
Pri nyanyi gak jelas di kamar mandi. Dibasahi sekujur tubuhnya. Semua menjadi bersih dan wangi.
“Semua udah siap, udah rapi, udah perfect, ga ada yang ketinggalan, oke, ayo pergi.”
Pri mengendarai motornya ke kantor. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke kantornya dengan bersepeda motor.
“Gedungku tercinta.”
Pri menatap kantornya. Ia baru saja tiba dan melangkahkan kakinya ke dalam kantor itu. Kantor itu berwarna biru. Banyak kaca-kaca menghiasi ruangan. Layaknya gedung-gedung pencakar langit di kota besar.
“Selamat siang Pak.”
“Siang.”
Pri adalah karyawan biasa. Dia bekerja di bidang evaluasi kinerja perusahaan. Perusahaan tempatnya memang sedang berkembang. Dan ia berusaha untuk ikut tumbuh berkembang bersama perusahaan itu.
“Sekarang bulan apa?”
“November Pak.”
“Oke rencanakan evaluasi perusahaan untuk November ini karena ini sudah akhir November”
“Siap Pak.”
Pri menyambut perintah bosnya. Dinyalakan laptop di mejanya. Dokumen-dokumen yang ada dipersiapkan. Dan pekerjaan pun dimulai.
***
“Jam 12 siang. Waktunya makan.”
Bergegas Pri keluar ke tempat makan di dekat kantornya. Yah sekalian ngobrol-ngobrol kalo ketemu temen. Ato mungkin kalo ada cewek cantik lumayan lah enak buat dipandang. Hehe.
Ada tempat makan enak di sekitar tempat Pri. Warung Nasi Pecel. Pri suka nasi pecel. Kebetulan tempat lagi penuh. Dan tinggal ada satu tempat duduk di samping cewek muda berpenampilan menarik.
“Boleh aku duduk di sini? Tempat lainnya ga ada yang kosong.”
“Oh iya, silakan.”
Sambil makan Pri mengajak wanita itu mengobrol sejenak. Yah, untuk melepas kepenatan di kantor.
“Kerja dimana?”
“Itu di sebelah. Di online shop Libera Citra”
“Oh, “
“Kamu?”
“Aku di Mitra Karya. Suka makan di sini?”
“Enggak, aku suka makan di sana. Hehe, aku bo’ong. Iya aku suka makan di sini pas makan siang. Tempatnya deket. Rasanya juga sesuai ma lidah”
“Sama aku juga. Nurutku enak si makanan di sini. Oh ya nama kamu siapa? Dari tadi udah ngobrol panjang lebar tapi belum tau namanya.”
Mereka berdua tersenyum.
“Oh, sorry. Namaku Luna.”
“Pri.”
Dan begitulah terjadinya perkenalan antara Luna dan Pri. Waktu makan siang. Ya asal buat temen ngobrol aja.
***

Siang ini masih jam 11. Tapi Pri sudah kelaparan.
“Aduh laper banget. Gara-gara cepet-cepet ngerjain tugas ni. Gak sempet sarapan. Sarapan cuma roti jam segini udah kelaperan.”
“Ya udah makan aja lah Pri.” Eko menyahut.
“Enggak ah. Tanggung. Sebentar lagi juga jam 12. Dimarahin bos entar lum jam istirahat dah kabur duluan. Haha”
Waktu terasa begitu lambat berputar.
“Teng. Jam 12. Langsung cabut ke tempat makan.”
“Ye, ni orang cepet banget ngaburnya lok lagi kelaperan.“
Pri ke warung nasi pecel kesukaannya. Dan kali ini ia dapet tempat duduk. Langsung dilahap aja semua makanan bak orang kelaperan habis kerja di sawah 3 hari 3 malam.
“Hei Pri, ketemu lagi nih.”
Pri pun kaget. Makannya diperlambat. Sejenak Pri mengarahkan matanya ke orang yang menyapa dia siang ini.
“Luna”
“Aku duduk di sini ya. Udah penuh tempatnya.”
“Oh oke, duduk-duduk.”
Pri semakin melambatkan makannya. Dengan terus tersenyum Pri dan Luna ngobrol.
“Hari ini gantian ya aku yang nyari tempat duduk yang udah penuh.”
“Iya tadi uda kelaperan duluan. Pagi sarapan dikit banget gara-gara ada tugas kantor yang harus dikerjain cepet. Untung uda selesai tadi.”
“Hm, pantesan cepet banget nyampek di warung. Haha.”
Pri menatap Luna. Luna itu sosok yang menarik. Asik.
Pri makan. Gantian Luna menatap Pri. Pri itu baik. Asik. 
“Oh ya, boleh minta nomer hp nya gak?”
“Boleh, ni kartu namaku. Call me ya?” sambil senyum dan mengangkat tangan ke samping kuping seperti orang menelpon.
“Oke. Makasi yak.”
***
Pri lagi sendirian aja di kamar.
Malam-malam aku sendiri, tanpa dirimu lagi.
Iringan lagu Nike Ardila menemani Pri. Terngiang-ngiang.
“Mau ngapain ya.”
Pri liat-liat hapenya. dia melihat daftar nama yang ada di hapenya. dan sampailah pada satu nama, Luna. Sejenak Pri ragu mau menghubungi Luna. Temen yang baru dia kenal. Pri meletakkan hapenya lagi di meja. Pri melamun. Lalu ambil lagi hapenya. Pri berpikir sejenak. Lalu mengetikkan sesuatu di hapenya.
Malem Luna.
Pri.
Sebentar aja lalu ada balasan.
Hei, mlm juga Pri
J 
“lgi ngapain ni?”
“lagi mikirin kamu”
“ -.- langsung digombalin dah aku”
“ :D”
***
Jam pulang kantor. Pri udah bersiap-siap. Tenggo. Begitu jam 5 teng langsung go.
Pri menyalakan sepeda motornya. Jalanan yang penuh dengan kendaraan dengan orang-orang yang baru pulang dari bekerja ditempuh oleh Pri. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang wanita yang nampaknya ia kenal.
“Lun.”
“Oh, hai Pri”
“Mau kemana?”
“Pulang ni.”
“Ma aku yuk. Aku anter.”
Luna berpikir bentar.
“Udah ayuk ma aku aja. Aku anter sampe tujuan kok. Gak bakalan aku turunin di tengah jalan. Kecuali emang lagi mogok. Hehe”
Luna tersenyum. Lalu mendekat ke Pri. Luna dan Pri pulang bersama.
“Kamu biasanya pulang jam 5 Lun?”
“Iya, jam pulangku si emang jam 5. Lok gak ada tugas banyak ya langsung pulang. Lok pas ada yang harus diselesaiin hari itu juga ya terpaksa lembur dah aku.”
“Sama, aku juga jam 5 sore pulangnya. Kadang-kadang gak langsung pulang si. Ngobrol-ngobrol dulu ma temen-temen. Ato hang out ke mana dulu gitu.”
 “Udah sampai. Tuh turun di depan aja Pri. Yang pager ijo. Itu tempatku.”
“Oke Lun.”
“Mau mampir bentar Pri?”
“Enggak Lun, aku mau langsung balik aja.”
“Makasi Pri buat tumpangannya.”
“Sip.”
***

Dunia
Dua insan terkadang mencari
Terkadang juga dipertemukan
Roman insan muda mudi
Hilir naik
Kemana dan apa yang dibawa kemudi
Hari berganti hari
Semua dilewati dan dinikmati
Air meresap menembus tanah
Tapi air tak bisa melewati lapisan plastik
Burung menari
Bunga mewangi
Musim semi menjelang
Hangat

“Sabtu mau ngapain ya? Pengen keluar tapi gak ada temen.”
Pri mengutak atik laptopnya. Lalu gantian hapenya yang diutak atik. Seolah si hape lagi rusak. Padahal gak ada cacat di hape itu.
Lun, sabtu besok kamu ada acara gak?
Tuut..
Gak ada. Knp Pri?
Jalan-jalan yuk Lun?
Tuut..
Boleh, kemana?
Kasi tau gak ya. Haha
Tuut..
Dasar.
Tapi nggak ada yang marah kan aku ngajak kamu jalan-jalan?
Tuut..
Enggak kok Pri. Santai aja.
Oke sabtu jam setengah delapan aku ke tempatmu ya?
Tuut..
Aku tunggu J 
****
“Kamu mau makan apa?”
“Aku ini aja deh.”
“Oke, mbak ayam bakar pedas manis dua sama lemon tea dua yak. Gak pake lama.”
“Lama juga gapapa kali. Biar bisa berduaan terus. Haha”
“Aku tersipu malu ni Lun.”
“Haha.”
Di tengah rembulan yang bersinar sepasang muda mudi duduk bersama menimati indahnya malam minggu. Diwarnai kerlap kerlip bintang dan cahaya lampu yang bergantian menyala antara satu dan lainnya, saling melengkapi dan membentuk kesan indah.
“Gimana kerjaan di kantor?”
“Asik-asik aja si. Bosnya enak. Baik. Suka nraktir lagi. Kadang kerjaan banyak. Tergantung order si. Pas lagi banyak ato pas lagi sepi. La kamu sendiri Pri?”
“Aku, dimanapun aku bekerja, aku akan melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Apapun dan gimanapun kondisinya. Harus siap fight.”
“Mantep bener dah ni orang”
“Lagak cool ke Luna.”
“Hu, kepedean Lu Pri. Haha”
“Senyum Luna buatku ga tahan.”
“Ga tahan kenapa?”
“Ga tahan pengen pipis. hehe”
“Ye, bilang aj kebelet pipis. Pergi sana gih nyari toilet!”
“Kabur. Haha”
***
Nonton yuk Lun?
Nonton apa?
Nonton yang bisa ditonton.
Kamu aja udah jadi tontonan yang menarik buat aku.
-,- mulai deh luna nggombal
:D

Luna dan Pri nonton di bioskop. Lampu mulai mati. Film pun dimulai. Di tengah asiknya nonton film, Pri dengan mata memandang ke film, tangan Pri mulai memberanikan diri untuk memegang tangan si Luna. Luna seperti terkejut. Pri pura-pura nggak tahu dan asik menonton filmnya. Luna pun melanjutkan nonton filmnya. Tanpa melepaskan tangan si Pri.

Getaran
Getaran itu mulai terasa
Menyusup masuk ke dua insan
Dua insan yang lagi kasmaran
Dunia indah ini tak mau terlepas
Ada momen
Dimana kita bisa menikmati hidup
Meski tiap hari dipenuhi dengan tantangan
Selalu ada kenikmatan
***
Di tengah taman di malam hari, Pri menggelar karpet sebagai alas.
“Sini Lun!”
Luna dan Pri tidur telentang memandang ke atas. Melihat pemandangan langit yang menawan.
“Ku suka liat pemandangan langit dari kecil”
“Aku juga suka liat pemandangan langit. Palagi lok liatnya ma kamu.”
“Hm, mulai ya ikut nggombal kamu Pri”
“Iya donk ikut ngimbangin. Siapa dulu yang ngajarin?”
“Miss Luna”
“Hu, besar kepala kamu. Aku cubit ntar pipi kamu”
“Ih, jangan.”
“Sini-sini aku cibit”
“Aw. Aw, aw, haha”
“Aku cubit ganti ni kamu”
“Haha”
Mereka pun menghabiskan malam itu berdua di taman. Taman langit. Taman yang begitu indah bagi mereka.
“Lun?”
“Hm? Apa Pri?”
“Kamu mau gak jadi pacar aku?”
“Kenapa kamu ingin aku jadi pacar kamu?”
“Karena aku da milih kamu.”
Mata Luna dan Pri bertatapan. Seolah kini mata merekalah yang berbicara. Sesaat. Luna menebarkan senyumnya. Pri pun ikut tersenyum.
***

Pagi ini Pri dan Luna pergi ke danau.
“Kita mau ngapain Pri?”
“Mancing”
“Serius?”
“Kita mau menghabiskan waktu di tengah danau.”
Luna tersenyum. Perahu itu mulai melaju ke tengah-tengah danau. Mereka berdua menghabiskan waktu di tengah air yang penuh dengan ikan dan pemandangan yang menakjubkan.
“Eh, itu ada ikan. Ikannya makan umpanmu Pri.”
Pri langsung menarik kailnya. Entah berapa ikan yang sudah didapat mereka. Mereka berdua senang.
“Lun?”
“Iya Pri?”
“Aku sayang kamu.”
“Aku juga sayang ma kamu Pri.”
Suasana begitu tenang. Pri dan Luna bertatapan. Mereka berdua memejamkan mata. Pri mencium Luna.

“Pri?”
“Apa sayang?”
“Malam ini kamu tidur di tempatku ya?”
“Kenapa?”
“Aku lagi pengen kamu temenin. Dalam tidurku pun aku pengen kamu terus nemenin aku.”
“Aku akan slalu nemenin kamu Lun. Aku slalu ada buat kamu.”
Pri tidur dengan Luna. Luna tidur di ranjang, dan Pri tidur di bawah.
“Met bobok Luna.” ucap Pri sambil membelai rambut Luna.
“Met bobok Pri.”
Tak henti-henti Luna memandangi Pri. Sampai akhirnya Luna memejamkan matanya.
***

Hari ini hari yang spesial buat Luna.
“Happy Birthday Luna. Ini kado buat kamu.”
“Apa ini? Aku buka ya?”
Luna membuka kadonya dari Pri.
“Boneka beruang. Kok bisa tau si aku suka boneka beruang? Imut banget.”
Pri hanya tersenyum.
“Makasi ya Pri.”
Boneka beruang warna pink yang kecil dan lucu. Boneka yang disukai Luna. Setiap pergi jalan-jalan Luna suka liat boneka itu. Baru kali ini Pri membelikannya untuk Luna sebagai hadiah ulang tahunnya.
***

Pri merencanakan sebuah candle light dinner bareng Luna.
“Lun, candle light dinner yuk?”
“Serius?”
“Iya serius.”
Luna membayangkan suasana yang romantis bareng Pri. Pri mengajak Luna ke suatu tempat. Tempat tinggal Pri. Pri mengajak Luna ke ruang makan.
“Duduk sini Lun.”
Lampu tidak ada yang menyala. Hanya lilin-lilin kecil yang menemani mereka.
Pri mengambilkan makanan untuk luna.
“Ni buat kamu”
“Makasih”
Mungkin bagi Luna ini gak seindah yang dibayangin. Tapi bersama Pri suasana apapun akan terasa indah. Mereka menikmati makan malam itu.
Minggu depannya Pri mengajak Luna keluar.
“Lun, makan yuk. Laper.”
“Ayuk, aku juga laper ni.”
“Makan dimana?”
“Entar deh aku tunjukin. Kamu ikut aja.”
Luna diajak ke sebuah tempat. Di restoran di lantai 12 sebuah mall. Restoran itu terbuka. Udara segar bisa dihirup dari sini. Pemandangan kota dari atas begitu indah untuk dilihat. Di atasnya terlihat taburan bintang kerlap-kerlip. Lilin-lilin menyala remang menciptakan suasana elok menawan. Ditemani lantunan lagu nan memikat membuat suasana semakin nyaman.
“Kamu suka tempat ini Lun”
“Suka. Suka banget.”
“Yuk makan.”
“Ini romantis banget Pri.”
“Kamu coba makanan ini. hak..”
Pri menyuapkan makanan di sendoknya ke Luna.
“Gimana rasanya? Enak gak?”
“Enak. Enak banget. Palagi yang nyuapin kamu. Bener-bener terasa enaknya.”

 I don’t wanna close my eyes, I don’t wanna fall asleep cause I miss you beibeh and I don’t want miss a thing.

***

Hari ini terasa berbeda. Langkah Pri terasa berat. Begitu juga Luna.
“Lun.”
“Pri.”
Pri menarik nafas panjang.
“Sepertinya udah saatnya Lun.”
“Iya Pri, aku rasa juga begitu.”
Mata mereka berdua kembali bertatapan.
“Makasih Lun.”
“Aku juga Pri.”
Luna dan Pri melangkahkan kakinya. Kali ini ke arah yang berbeda. Mereka berdua terlihat begitu tegar. Meskipun sebenarnya sakit menyayat-nyayat di dalam. Percintaan dewasa, sakit dan senang seperti tak ada beda. Ada maupun tak ada cinta, tak terlihat oleh kasat mata.

***

Pri menyiapkan barang-barangnya. Kali ini ia mau bepergian jauh. Perjalanan akan ditempuh selama berjam-jam dengan bis.
“Oke udah siap, berangkat Pri.” Pri berkata ke dirinya sendiri.
Setiba di terminal Pri mencari tempat duduknya.
“Kursi nomor 22. Ini dia. “
Pri duduk di dalam bis sambil melihat banyak orang hilir mudik lalu lalang di terminal. Ada yang mau pulang, ada juga yang baru datang.
“Ini kursi nomor 21?”
Pri melihat ke atas
“Oh iya benar.”
Wanita itu duduk di sebelah Pri.
“Mau ke mana?”
“Mau ke rumah nenek Mas. Mas sendiri mau ke mana?”
“Aku mau jalan-jalan aja ke tempat temen.”
Penumpang sudah penuh. Bis mulai bergerak melaju.
“Oh ya namanya siapa?”
“Santi.”
“Pri.”

Layaknya embun pagi
Sejuk dan indah
Di langit yang biru
Begitu nyaman
Embun hilang
Jelang siang
Lanjut malam
Ketika pagi kembali
Embun baru datang
Embun segar
Di langit biru

*****