Malam hari di
tengah pusat kota New York. Aku memandang dari dalam kaca gedung perusahaanku.
Aku mengarahkan pandanganku keluar melihat hiruk pikuk keramaian kota New York.
Yah, aku telah berada di sini. Aku telah mencapai dan menggenggam apa yang aku
inginkan. Aku direktur Kimberly Auction. Sebuah balai lelang ternama di New
York. Yang tiap harinya melelang barang-barang berharga. Bergerak maupun tidak
bergerak. Barang- barang prestisius yang akan dilelang pasti berada di sini.
Karena hasil nilai jual yang tinggi. Jutawan pun pasti sudah tau dengan nama
Kimberly Auction. Mereka banyak mendapat koleksi-koleksinya yang berharga dari balai
lelang ini. Yah, Kimberly Auction, No. 1 Prestigious Assets auction in New York.
Pikiranku kembali berputar
ke masa lalu. I’m Ben. Ben Smith. I’m
from Indonesia. Yah, Ben kecil
adalah seorang yang ambisius. Dia tidak pernah sadar dengan kemampuan yang dia
punya. Dia hanya anak kecil yang suka berkhayal. Suatu ketika, ben kecil
melihat iklan di TV. Dia melihat wanita kecil di iklan berkata, “aku ingin
menjadi astronot”. Pikiran Ben pun melamun. Astronot. Apa itu astronot?
“Ma, apa itu
astronot?”
“Astronot itu orang
yang menjelajah luar angkasa. Jika kamu jadi astronot, kamu bisa menjelajah ke
bulan.” Clara mencoba menjelaskan sesuatu kepada buah hati kecilnya itu.
“Wow, sounds good!”
Ben kecil lalu
membayangkan menjadi astronot. Menyenangkan sekali terbang di udara. Memakai
pakaian seperti tabung atau robot dan berjalan-jalan di atas bulan. Ah, sambil
memandangi bintang di langit dari luar rumahnya ben membayangkan menjadi
astronot. Menaiki pesawat luar angkasa, dan, keluar dari bumi, menuju
bulan, dan setelah berada di bulan, dia
akan berpose segagah mungkin. Dan fotonya di bulan akan terpampang di media
cetak seluruh dunia. “Amazing” .
Di perpustakaan
sekolah ben mulai mencari dan membaca cerita-cerita tentang antariksa, luar
angkasa, bintang-bintang, dan tentunya penjelajahan para astronot. Melihat
gambar-gambar antariksa dan astronot di buku cerita, Ben pun semakin kagum. Ben
pun menetapkan diri di hati. Suatu saat ketika aku besar, aku ingin menjadi
astronot. Aku akan bekerja di NASA, organisasi pengembangan pengetahuan antariksa
yang begitu terkenal di Amerika. Bahkan di seluruh dunia. Dan tiba-tiba ide
gila Ben kecil mulai muncul. Mimpi-mimpi Ben kecil mulai dirangkai. Yang
nantinya akan membawa dia ke raihan-raihan tingginya dalam hidup.
Ya, Ben kecil mulai
merencanakn sesuatu. Di usianya yang baru sebelas tahun, Ben kecil mulai
berdiri. Membawa mimpinya.
“Aku sekarang masih
SD. Aku ingin masuk SMP paling favorit di Surabaya. Setelahnya aku akan masuk SMA
paling favorit di Jakarta. Setelah itu aku akan melanjutkan kuliah beasiswa di New
York. Dan setelahnya aku akan bekerja di NASA. Dan ketika peluang itu datang,
aku akan menjadi astronot, aku akan mengikuti seleksi untuk menjadi sukarelawan
astronot untuk diterbangkan ke planet manapun. Yah, ini dia, my dream. Astronot. Aku ingin menjadi
astronot. Ben ingin menjadi astronot. Ben adalah astronot.”
Dan sebelum tidur, Ben
mengucap sendiri di dalam kamarnya. “Ben akan menjadi astronot. Yeah, Ben
adalah astronot masa depan.”
Sejak ikrar di
dirinya itu, Ben menjadi rajin belajar. Ia ingin menempuh impiannya untuk
menjadi astronot itu dari jalur akademis. Sebentar lagi ujian nasional SD.
Tepatnya setahun lagi. Ben pun mulai menyiapkan diri. Tujuannya sekarang adalah
menembus SMP terfavorit di Surabaya. Karena itu nilainya pun harus bagus.
Setahun berlalu.
Dengan usaha terus-menerus dan tak kenal lelah Ben, akhirnya Ben lulus dengan
nilai terbaik di sekolahnya. Dan ia pun berkata kepada keluarganya bahwa ia
ingin sekolah di SMP no. 1 di kota Surabaya.
“Ben ingin jadi
astronot. Jadi Ben ingin masuk sekolah no. 1. Ben ingin jadi no. 1 biar bisa
jadi astronot”
Clara dan Clark pun
tak percaya anaknya begitu ambisius seperti itu.
“Oke. Kalo itu
maumu, papa akan daftarkan kamu untuk ikut ujian masuknya. Tapi kamu harus
berjanji untuk rajin belajar dan tidak boleh mengecewakan papa dalam hal
prestasi akademis.”
“Ben janji Pa.”
Ben akhirnya
mendaftar di SMP 5 Surabaya. Ia ikut ujiannya. Ben begitu antusias. Ya. Dan
inilah target pertama Ben untuk mencapai impian itu. Untuk menjadi astronot. Ia
rajin belajar. Menyiapkan materi-materi yang akan diujikan. Ia begitu siap
untuk ujian. Ben yang ambisius siap.
Pengumuman tiba.
Dan, Ben masuk. Ben diterima di SMP 5 Surabaya. Yey. Ben pun melonjak-lonjak
kegirangan. Satu ambisinya tercapai.
Tiga tahun begitu
cepat berlalu. Ben tetaplah seorang Ben yang ambisius. Ben selalu menceritakan
keinginannya untuk menjadi astronot kepada teman-temannya. Ia akan bekerja di
NASA. Ia adalah astronot masa depan. Mendengar itu teman-temannya hanya
tertawa. Mereka pikir Ben sudah gila. Tidak realistis.
Ben tidak peduli
komentar teman-temannya. Sudah saatnya untuk fight yang kedua. Menembus SMA paling favorit di Jakarta. Ben yang
tiap harinya sudah rajin belajar meningkatkan lagi level belajarnya. Kali ini
harus tercapai. Ia ingin melanjutkan ke sekolah favorit di Jakarta.
Dan ujian akhir SMP
terlewati. Ben mendapatkan nilai yang memuaskan. Ben merasa siap untuk
melanjutkan pendidikannya di Jakarta.
“Ben ingin sekolah
di sekolah favorit di Jakarta Pa. Ben ingin menjadi Astronot. “
Dengan senyum kecil
Clark bertanya, “Apa kamu siap?”
“Ya, Ben sangat
siap”
“Oke Ben.
Perkembanganmu bagus. Jangan kecewakan papa.”
Ben mendaftar di
sekolah favoritnya di Jakarta. Ben yang selalu rajin belajar berusaha untuk
mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk bisa menembus SMA favorit di Jakarta.
Dengan susah payah
akhirnya Ben masuk SMA favorit di Jakarta. Ya, SMA 5 Jakarta. Ben menyimpan
ambisinya. Target keduanya berhasil diraih. Dan satu keinginan lagi. Kuliah di New
York.
Dua tahun berlalu.
Ben mulai menyadari ia kurang bisa sempurna di pelajaran Fisika. Padahal itu
adalah kunci utama untuk menjadi astronot. Kunci utama untuk masuk NASA. Hal
yang begitu diinginkannya. Ben mulai mencari info beasiswa luar negeri untuk
melanjutkan kuliahnya. Ia ingin kuliah di New York. Ia mendaftar ujian masuk
MIT. Tapi, entah kenapa, untuk kali ini Ben kurang yakin. Ben itu sempurna. Dan
jarang ia merasa kurang yakin dengan apa yang akan dilakukannya.
Lalu Ben membuat
alternatif pilihan. Dia mendaftar beasiswa untuk melanjutkan kuliah Faculty Of Law di New York University. Entahlah, tapi Ben merasa yakin untuk yang
ini. Ben sudah mengatakan kepada orang tuanya untuk melanjutkan kuiah di luar
negeri. Ia ingin melanjutkan kuliah di New York.
Orang tua Ben hanya
mengiyakan saja keinginan Ben. Mereka benar-benar tertarik melihat Ben yang
tumbuh semakin ambisius dan berprestasi. Kemampuannya bagus. Itulah yang
dilihat oleh Clara dan Clark.
Ben Lulus SMA.
Memuaskan. Dan ia diterima di New York University setelah perjalanan panjang
yang begitu menguras otak dan tenaga untuk meraih apa yang dia inginkan itu.
Sayang sekali untuk di Massachussets
Institute of Technology dia tidak masuk. Dan untuk pertama kalinya Ben
tidak meraih hasil yang diinginkannya. Ben berpikir, tak apalah. Dia tetap akan
kuliah di New York, dia mendapat beasiswa, dan dia akan menikmati kehidupan New
York.
Ben melihat jam
tangannya. 9.30 p.m. Sudah jam setengah 10 malam. Di kantornya. Ben melihat
kembali kilas balik masa lalunya. Ben yang sempurna. Itulah dia. Di kuliah pun Ben
selalu berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya. Dan ia lulus dengan predikat cum laude dari New York University.
Waktu begitu cepat
berlalu. Sekarang Ben telah berkepala dua. Direktur di perusahaan ini. Ia
selalu rajin dalam segala sesuatunya. Ia berusaha agar segala sesuatunya
berjalan sempurna seperti apa yang diinginkannya.
Ia merasakan
kenikmatan malam hari ini setelah berhasil melelang lukisan ternama Lady Mc
Guirre karya Adolfo Souzano. Lukisan itu terjual dengan harga 200 juta Dollar.
“Mr. Ben Smith, congratulations. You have
sold it. Thank You”
“No Problem. Its a good drawing. Wonderful
drawing”
“Your work is flawless.”
“Oh, thanks.”
Ben menikmati pesta
kecil ini. pesta kecil atas terjualnya salah satu lukisan mahakarya ternama.
Dia menggumam
sendiri, “So, what next?”
**********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar