Rabu, 07 November 2012

Kimberly: 2. Keakuanku


2. Keakuanku
Kimberly Auction adalah sebuah lembaga lelang di pusat kota New York. Berdiri di tahun 1970. Dengan pendirinya Robert Will Smith. Kecintaannya terhadap dunia pelelangan barang berharga membuatnya memulai untuk mendirikan sebuah balai lelang ternama di kota new york. Di awal berdirinya Kimberly Auction hanya melelang properti tanah dan bangunan. Namun seiring berjalannya waktu Kimberly Auction mengembangkan pelelangannya menjadi lebih luas dengan menjual secara lelang mobil, motor, lukisan, patung, pesawat, dsb. Sekarang seluruh penduduk new york pasti tahu apa itu kimberly Auction. Tidak jarang Kimberly Auction melelang barang berharga milik konglomerat yang hanya ada satu di dunia. Peminat pun begitu banyak.
Kondisi perekonomian AS yang sedang compang-camping akibat krisi global membuat banyak orang melelang harta benda yang mereka miliki. Hal itu membuat order Kimberly Auction semakin lama semakin banyak. Kadang ada beberapa harga dari barang yag dilelang jatuh. Tapi sebagian besar terjual dengan memuaskan. Hal inilah yang membuat Kimberly Auction tetap bisa bertahan dalam krisi global meskipun banyak perusahaan yang collapse. Dan salah satu aktor utama dari kesuksesan Kimberly Auction bertahan adalah Ben. Ben adalah menusia perfeksionis. Dia selalu berusaha membuat apa yang ada di sekitarnya terlihat sempurna. Ketika ada barang yang akan dilelang ia akan meneliti dengan seksama barang. Ia amati secara detail satu per satu bagian. Lalu ia catat lebih dan lemahnya. Dan ia bayangkan strategi untuk menjual secarra lelang barang itu.
Yah, itulah sekilas tentang pekerjaan Ben. Ia  memandangi langit. Memikirkan pekerjaan yang telah ia lakukan seharian ini. ia merogoh kantong celananya. Menarik selembar kertas yang ia simpan dari tadi. Sebuah tulisan dari seseorang yang ia kagumi. Seorang tokoh hebat yang menjadi panutan dan pijakannya. Dan entah kenapa tulisan tokoh itu bisa memberinya energi yang luar bisa untuk melanjutkan hidup. Untuk bersemangat dan berjuang dalam kehidupannya. Ia membaca kembali tulisan itu. Tulisan yang selalu ia baca setiap hari, di selembar kertas yang ia bawa tiap hari.
Aku
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku ingin hidup seribu tahun lagi 
Kembali Ben memandingi langit malam ini. langit dan suasana hiruk pikuk kota New York. Sambil mengingat kembali bait-bait tulisan itu. Dari seorang pengarang yang karyanya begitu hebat. Tapi umurnya begitu singkat.
“Ah, Chairil Anwar. A wonderful thing”
Ben menghirup napas dalam-dalam. Dan memandang. Ben berkata dalam hati. Aku yang egois. Aku yang individualis. Mungkin aku lebih egois daripada pengarang ini. mungkin aku lebih individualis daripada sang megabintang sepak bola Cristiano Ronaldo. Tapi aku adalah aku. Aku sempurna. Layaknya Cristiano Ronaldo maupun Chairil Anwar. Aku sempurna dengan caraku sendiri. Aku sempurna dengan jalanku sendiri.
Lamunan Ben mengarahkan dia kembali ke masa lalunya. Ia selalu berpindah-pindah tempat. Pertama tinggal di rumahnya. Lalu pindah ke Surabaya. Lalu ke Jakarta. Terakhir ke New York. Menjadi seorang perantau tidaklah mudah. Penuh perjuangan. Harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan yang baru. Ben suka tantangan. Sejak kecil ben selalu mengingat puisi aku chairil anwar. Dan puisi itulah yang dijadikan ben sebagai pijakan untuk tetap bertahan hidup, untuk tetap teguh pendirian, untuk mencapai apa yang dia inginkan kapanpun dan dimanapun dia berada.
***********

Tidak ada komentar: