2. Keakuanku
Kimberly Auction
adalah sebuah lembaga lelang di pusat kota New York. Berdiri di tahun 1970.
Dengan pendirinya Robert Will Smith. Kecintaannya terhadap dunia pelelangan
barang berharga membuatnya memulai untuk mendirikan sebuah balai lelang ternama
di kota new york. Di awal berdirinya Kimberly Auction hanya melelang properti
tanah dan bangunan. Namun seiring berjalannya waktu Kimberly Auction mengembangkan
pelelangannya menjadi lebih luas dengan menjual secara lelang mobil, motor,
lukisan, patung, pesawat, dsb. Sekarang seluruh penduduk new york pasti tahu
apa itu kimberly Auction. Tidak jarang Kimberly Auction melelang barang
berharga milik konglomerat yang hanya ada satu di dunia. Peminat pun begitu
banyak.
Kondisi
perekonomian AS yang sedang compang-camping akibat krisi global membuat banyak
orang melelang harta benda yang mereka miliki. Hal itu membuat order Kimberly
Auction semakin lama semakin banyak. Kadang ada beberapa harga dari barang yag
dilelang jatuh. Tapi sebagian besar terjual dengan memuaskan. Hal inilah yang
membuat Kimberly Auction tetap bisa bertahan dalam krisi global meskipun banyak
perusahaan yang collapse. Dan salah
satu aktor utama dari kesuksesan Kimberly Auction bertahan adalah Ben. Ben
adalah menusia perfeksionis. Dia selalu berusaha membuat apa yang ada di
sekitarnya terlihat sempurna. Ketika ada barang yang akan dilelang ia akan
meneliti dengan seksama barang. Ia amati secara detail satu per satu bagian.
Lalu ia catat lebih dan lemahnya. Dan ia bayangkan strategi untuk menjual
secarra lelang barang itu.
Yah, itulah sekilas
tentang pekerjaan Ben. Ia memandangi
langit. Memikirkan pekerjaan yang telah ia lakukan seharian ini. ia merogoh
kantong celananya. Menarik selembar kertas yang ia simpan dari tadi. Sebuah
tulisan dari seseorang yang ia kagumi. Seorang tokoh hebat yang menjadi panutan
dan pijakannya. Dan entah kenapa tulisan tokoh itu bisa memberinya energi yang
luar bisa untuk melanjutkan hidup. Untuk bersemangat dan berjuang dalam
kehidupannya. Ia membaca kembali tulisan itu. Tulisan yang selalu ia baca
setiap hari, di selembar kertas yang ia bawa tiap hari.
Aku
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku ingin hidup seribu tahun lagi
Kembali Ben
memandingi langit malam ini. langit dan suasana hiruk pikuk kota New York. Sambil
mengingat kembali bait-bait tulisan itu. Dari seorang pengarang yang karyanya
begitu hebat. Tapi umurnya begitu singkat.
“Ah, Chairil Anwar.
A wonderful thing”
Ben menghirup napas
dalam-dalam. Dan memandang. Ben berkata dalam hati. Aku yang egois. Aku yang individualis. Mungkin aku lebih egois daripada
pengarang ini. mungkin aku lebih individualis daripada sang megabintang sepak
bola Cristiano Ronaldo. Tapi aku adalah aku. Aku sempurna. Layaknya Cristiano
Ronaldo maupun Chairil Anwar. Aku sempurna dengan caraku sendiri. Aku sempurna
dengan jalanku sendiri.
Lamunan Ben
mengarahkan dia kembali ke masa lalunya. Ia selalu berpindah-pindah tempat.
Pertama tinggal di rumahnya. Lalu pindah ke Surabaya. Lalu ke Jakarta. Terakhir
ke New York. Menjadi seorang perantau tidaklah mudah. Penuh perjuangan. Harus
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan yang baru. Ben suka tantangan.
Sejak kecil ben selalu mengingat puisi aku chairil anwar. Dan puisi itulah yang
dijadikan ben sebagai pijakan untuk tetap bertahan hidup, untuk tetap teguh
pendirian, untuk mencapai apa yang dia inginkan kapanpun dan dimanapun dia
berada.
***********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar