Adil. Namanya Adil Ramli. Dia hanya seorang anak SMP biasa. Dia berasal dari
kalangan keluarga yang biasa-biasa saja. Ayahnya seorang guru. Dan ibunya
seorang wanita karir. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Dari kecil,
Adil adalah anak baik yang penurut. Dia cenderung tidak macem-macem dalam
menjalani hidup. Dan soal prestasi akademis, dia termasuk biasa-biasa saja.
Namun begitu ada sesuatu yang lain dari seorang Adil. Dia orang yang
berusaha terlihat tenang dalam segala situasi. Jarang sekali raut mukanya
terlihat gundah, meskipun ia berada dalam tekanan.
“Adil, main yuk..”
Dia cenderung suka berteman dengan siapa saja. Diajak bermain dengan siapa
pun dia mau. Entah itu dengan tetangga, ataupun teman sekolah. Orangnya begitu
santai. Senyuman tidak pernah habis keluar dari mulutnya. Pernah suatu hari ada
pertengkaran hebat diantara teman-temannya. Dia diharuskan untuk memilih ikut
grup mana, grup Hendro atau grup Rudi.
“Kamu bela yang mana, aku atau dia?”
“Aduh, perutku sakit, gak enak badan sepertinya. Aku pulang dulu y gak ikut
main. Maaf.”
Begitulah si Adil. Suka meninggalkan situasi berkonflik. Ia cenderung
menyukai kedamaian. Ketika ada masalah yang mengharuskan dia untuk memilih
diantara pihak yang berkonflik, dia cenderung berpura-pura sakit dan pergi
menghindari, sehingga tak ada satupun yang di pihak. Ketika konflik temannya
selesai, dia baru muncul kembali. Mungkin Adil tahu bahwa pertengkaran di
antara teman-temannya itu hanya untuk sementara saja. Cepat atau lambat pasti
akan reda juga. Dia tidak pernah ikut campur dalam pertengkaran orang lain.
Malam hari tiba. Saat yang ia tunggu-tunggu. Melihat kilauan bintang di
langit. Dengan segera ia menggelar tikar di teras rumahnya. Dari teras rumahnya
itu dia bisa melihat langsung bintang-bintang yang ada di langit. Ia tiduran di
atas tikar itu sambil menatap langit.
“Hm, begitu indah”
Setiap malam ia suka menghabiskan waktu untuk melihat bintang. Entah di
depan rumah, di lantai atas, di atas atap, atau di tempat lainnya sambil
tiduran. Terkadang juga dia melihat bintang sambil makan cemilan. Terkadang ia
membawa lampu kecil untuk melihat bintang sambil membaca buku. Buku
tentang rasi bintang. Ia lalu mencocokkan rasi bintang yang sedang muncul di
langit.
“Itu namanya gubuk penceng. Bentuknya seperti gubuk tapi miring. Lalu yang
itu, scorpio. Bentuknya seperti kalajengking.”
Adil suka sekali berlama-lama melihat bintang. Bahkan sampai ia ketiduran di
luar rumah ketika melihat bintang. Kalau sudah begitu ibunya datang
membangunkan.
“Adil, udah malam. Waktunya tidur. Jangan tidur di sini, dingin nak. Yuk
masuk ke dalam. Tidurnya di kamar aja.”
“Ibu, lihat bintang yang itu, bagus ya.”
Mereka berdua lalu mengobrol dan bercanda sebentar sambil melihat bintang.
Tak berapa lama mereka masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap untuk tidur.
Adil masuk kamar. Hari udah malam. Kamar Adil banyak dipenuhi dengan
bintang. Adil memang suka sekali dengan bintang. Dia punya banyak mainan yang
berbentuk bintang. Desain kamarnya menyerupai bintang. Tembok kamarnya banyak
dipenuhi dengan gambar-gambar bintang. Dia juga menyusun lampu-lampu kecil
berbentuk bintang yang nyalanya berkedip-kedip bergantian. Terkadang juga dia
menyalakan lilin yang berbentuk bintang untuk menemani tidurnya.
“Selamat tidur, bintang.”
Dia tertidur lelap dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya.
Pagi menjelang. Adil membersihkan kamar dan rumah. Tiap satu bulan sekali ia
menguras bak air kamar mandinya. Adil suka dengan kebersihan. Adil juga anak
yang berbakti pada orang tua. Tiap disuruh untuk membantu orang tua dia slalu
mengerjakan. Ketika dia sedang malas mengerjakan apa yang disuruh orang tuanya,
dia minta waktu lima menit untuk bersantai dulu. Dia berusaha mengontrol
perasaan tidak senang ataupun malas yang berkecamuk dalam hatinya. Ajaibnya
setelah lima menit dia akan mengerjakan perintah itu dengan senyum.
“Minumnya nak, diminum dulu!”
Selesai membersihkan kamar dan rumah Adil minum segelas air susu yang sudah
dibuatkan oleh ibunya. Adil melihati gelasnya. Ibu Adil sudah mengerti apa kesukaan
anak laki-lakinya itu. Adil suka gelas berbentuk seperti buah Belimbing karena
bagian bawahnya mirip bentuk bintang. Buah Blimbing adalah buah kesukaan Adil.
Selesai sarapan Adil berangkat ke sekolah. Di kelas dia memang murid yang
biasa saja. Di waktu luangnya di sekolah ia suka menggambar langit penuh
bintang. Entah itu di kertas ataupun di notebooknya. Entah kenapa ketika ia
disuruh menggambar bintang, gambarnya terlihat bagus. Tapi ketika menggambar
lainnya, justru gambarnya jelek. Gurunya pun sering memarahi Adil karena
gambarnya yang jelek ketika objek yang digambarnya bukanlah bintang. Karena
sudah mengetahui seperti itu, ketika ujian pun, gurunya meminta Adil menggambar
bintang saja biar nilainya bagus.
“Adil, kamu nanti buat ujian semester menggambar bintang saja ya, biar
hasilnya bagus!”
“ Siap Pak.” kata Adil sambil tersenyum.
Dan benar saja. Hasilnya selalu bagus bagi Adil untuk urusan menggambar
bintang. Selain itu dia juga pintar jika diminta mendekorasi ruangan layaknya
langit malam penuh bintang. Ketika teman-temannya membutuhkan sebuah dekorasi
acara pesta ataupun kegiatan sekolah yang menginginkan kesan langit penuh
bintang, Adil pasti akan dipanggil untuk membantu. Dan Adil pun senang membantu
karena dia suka sesuatu yang berhubungan dengan bintang.
Adil pulang sekolah. Ia rebahkan badan di ranjang kamarnya. Di waktu santai
Adil suka memasang headset lalu mendengarkan musik. Adil menyukai lagu-lagu
tentang bintang. Meskipun itu lagu lama ataupun lagu baru. Ketika masih TK,
lagu yang paling ia suka adalah bintang kecil. Ketika malam, dia suka juga
tiduran sambil mendengarkan lagu-lagu tentang bintang sambil melihat bintang.
Terkadang Adil suka memberikan kejutan istimewa untuk keluarga. Ketika
kakaknya ulang tahun, dia tahu kakaknya ingin blackforest. Dia menghadiahkan
blackforest itu kepada kakaknya. Blackforest itu berbentuk bintang. Tetap saja,
ciri khas adil dengan bintangnya selalu ada.
“Wah, makasih Adil adikku.” sambil memluk adiknya yang lucu itu.
Kakaknya amat senang dengan hadiah dari adiknya itu. Suatu hari kejutan juga
dibuat untuk ibunya. Adil ingn membuat kue yang berbentuk bintang. Karena itu
dia membuka internet mencari-cari cara membuat kue enak berbentuk bintang.
Ketemu. Dan dia mempraktekkannya di dapur.
“Sedang apa kamu nak?”
Ketika ditanya ibunya dia hanya tersenyum. Kue matang. Dia menghiasinya. Kue
bintang itu terlihat begitu menarik. Adil lalu memberikan kue bintang untuk
ibu.
“Ini kue buat Ibu.”
Ibu tersenyum sambil menitikkan air mata melihat si Adil yang bersusah payah
membuatkan kue bintang untuknya. Apapun rasanya bagi ibu Adil itu terasa begitu
lezat. Dia bangga pada anaknya.
Itulah kehidupan si Adil. Menurut Adil menjadi bintang itu bukan berarti
tampil menonjol. Tapi memberikan pancaran ketenangan hati bagi siapa saja yang
melihatnya.