Selasa, 26 Maret 2013

Strategi

Ni naskah cerita dalam drama singkat waktu prajab kemarin. Bentuknya puisi. cekidot.

Strategi


Intro:
Pagi ini kabut begitu kelam
Tarian mendung hitam mendaki
Di liang pemakaman
Mastur menangis meratap
Meratapi seekor kucing nan lucu
Diam kaku
Dia tlah pergi

Mastur menangis
Melihat secarik surat
Surat dari sang kucing
Dengan isi:
‘Mastur, kalau sampai  waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Selamat tinggal
Kucingmu’


Freeze:
Mastur, terimalah apa adanya
Kucingmu tlah pergi
Tinggalkan kau sendiri
Ada Dedek yang berempati
Atau Wahyu yang keras memaki

Pucuk dicinta ulam pun tiba
Kucing mati biarlah pergi
Karna ada pengganti
Gadis cantik jelita menanti
Oh gadis, biarlah lelaki ini mengenalmu


Epilog:
Cinta itu butuh strategi
Mastur mengevaluasi
Dedek mendeskripsi
Wahyu spontan
Menunggu kepastian sang dara
Ratih, Dias, mengapa kalian begitu cepat lari
Dengan keterbukaan ataupun ketertutupan


Lebak Bulus, 13 Maret 2013

By:
Yang terhempas deru campur butiran debu
sekali berarti habis itu mati
diam bersuara, go ahead
Chairil ‘Toni’ Anwar

Lalu Lalang

“Don?”
“Yes?”
“Maen yok?”
“Ke mana?”
“Ke hatimu”
“Maho lo”
***
Doni dan Ruby adalah dua orang sahabat. Kemana-mana mereka selalu bersama. Dan karena terlalu seringnya mereka bersama, mereka sering dibilang pasangan maho.
Doni dan Ruby lagi duduk-duduk di Starbucks.
“Don, cewek cakep cuy...”
“Yang mana si?”
“Itu arah jam 1 yang pake baju pink.”
“Halah, biasa itu. Rate 3 deh”
“Yah kek gitu bintang 3? Bintang 4 lah.”
“Enggak, bintang 3.”
“Bintang 3 tapi lok dikasi mau juga kan lo?”
“Ya iyalah rejeki ngapain ditolak”
“Hu, muna lo”
Mereka berdua tertawa.
“Kalo cewek baju ungu arah jam 9 gimana Don?”
Doni menengok. Sejenak dia terpana.
“Itu, bidadari turun dari kayangan.”
“Raisa”
“Dian Sastro”
Mulai dah Ruby dan Doni memirip-miripkan wajah cewek itu dengan artis idolanya. Lok di kaskus mata kedua cowok ini udah matabelo :matabelo :matabelo.
“Rate 5 Rub”
“Rate 10 Don”
“Yah elo, kan sampe 5 aj ratenya”
“Ini kan extraordinary cuy.”
“Haha”
***

Basuki Diana

Alkisah di sebuah kehidupan, di tempat sejuk nan dingin, udara pagi berhembus semilir. Dalam sebuah rumah joglo nan keramat, terdapat sesosok pemuda dengan nama Basuki. Basuki Sudira Kesuma. Basuki melakukan kebiasaan sehari-harinya. Duduk di depan rumah, sambil melihat langit.
“Minggu nan cerah.”
“Apa yang ada di langit begitu indah. Butiran awan, lukisan alam penuh imajinasi, angin yang berhembus sepoi-sepoi.”
Angin bergerak ke arah timur. Di timur nan jauh, di sebuah rumah bergaya tahun 2000an seorang makhluk hawa berhias di depan kaca. Perempuan itu menyisir rambutnya dengan halus dan pelan seraya memandangi wajahnya di depan kaca.
“Apa aku terliat cantik? Apa aku menarik?”
Sudah kodrat ketika makhluk hawa harus tampil cantik dan menarik sehingga membuat makhluk adam tertarik.
“Demi hari, aku mencintai hari ini. aku menyayangi hidupku sendiri. Semua kulakukan yang terbaik untuk hidup ini. Langkahku, apapun itu, semua untuk masa depanku.”
Begitulah gumam si Basuki.
Detik demi detik terlewat. Hari berganti hari. Hari libur pun usai. Basuki harus kembali bekerja. Di pagi yang masih sunyi nan gelap, pria ini sudah membagunkan diri, merawat diri, membersihkan diri, dan bersiap diri ke tempat ia mencari nafkah.
Diana telah selesai mandi. Di kamar, dia memilih-milih baju apa yang akan ia kenakan. Layaknya seorang putri, penampilan itu harus diperhatikan.
“Meski aku tak secantik putri salju, aku hanya ingin diriku terlihat menarik.”
Setelah berhias diri selama satu jam, Diana pun bersiap untuk berangkat bekerja.
Dengan bergegas Basuki memakai sepatu. Roti dan susu sebagai menu utama pengganjal perut.
“Ready for today”
“Ready for today!”
Diana, si putri salju, telah siap. Dan berangkat ke tempat ia menghabiskan banyak waktunya. Ya, di kantor tempat ia bekerja.
Dan, pagi ini apakah akan menjadi lain dari biasanya? Basuki pun tak tahu.
Di jalan, ia berpapasan dengan seorang wanita, yang juga berangkat kerja. Entah kenapa, Basuki terpana melihat wanita itu. Wanita muda itu hanya tersenyum. Tersenyum senang karena ada pria yang kagum padanya. Itu seperti sebuah penghargaan atas lamanya ia berdandan dan berusaha tampil semenarik mungin.
“Oh kaum hawa, kenapa kalian selalu terlihat menawan. Tak sanggup aku untuk tak melirik wanita tadi.   Dia tidak cantik. Tapi, entah kenapa, aku, aku tak bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi padaku ini.”
Basuki melanjutkan langkah. Berkejaran dengan matahari yang telah terbit dan naik.
“Aku ingin mengenal makhluk hawa itu. Siapa namanya? Apa ia mau berkenalan denganku? Aku takut, mungkin dia tidak mau berkenalan dengan aku. Ah, sudahlah. Mungkin hanya wanita yang lewat saja.”

Tentang Bintang

Adil. Namanya Adil Ramli. Dia hanya seorang anak SMP biasa. Dia berasal dari kalangan keluarga yang biasa-biasa saja. Ayahnya seorang guru. Dan ibunya seorang wanita karir.  Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Dari kecil, Adil adalah anak baik yang penurut. Dia cenderung tidak macem-macem dalam menjalani hidup. Dan soal prestasi akademis, dia termasuk biasa-biasa saja.
Namun begitu ada sesuatu yang lain dari seorang Adil. Dia orang yang berusaha terlihat tenang dalam segala situasi. Jarang sekali raut mukanya terlihat gundah, meskipun ia berada dalam tekanan.
“Adil, main yuk..”
Dia cenderung suka berteman dengan siapa saja. Diajak bermain dengan siapa pun dia mau. Entah itu dengan tetangga, ataupun teman sekolah. Orangnya begitu santai. Senyuman tidak pernah habis keluar dari mulutnya. Pernah suatu hari ada pertengkaran hebat diantara teman-temannya. Dia diharuskan untuk memilih ikut grup mana, grup Hendro atau grup Rudi.
“Kamu bela yang mana, aku atau dia?”
“Aduh, perutku sakit, gak enak badan sepertinya. Aku pulang dulu y gak ikut main. Maaf.”
Begitulah si Adil. Suka meninggalkan situasi berkonflik. Ia cenderung menyukai kedamaian. Ketika ada masalah yang mengharuskan dia untuk memilih diantara pihak yang berkonflik, dia cenderung berpura-pura sakit dan pergi menghindari, sehingga tak ada satupun yang di pihak. Ketika konflik temannya selesai, dia baru muncul kembali. Mungkin Adil tahu bahwa pertengkaran di antara teman-temannya itu hanya untuk sementara saja. Cepat atau lambat pasti akan reda juga. Dia tidak pernah ikut campur dalam pertengkaran orang lain.
Malam hari tiba. Saat yang ia tunggu-tunggu. Melihat kilauan bintang di langit. Dengan segera ia menggelar tikar di teras rumahnya. Dari teras rumahnya itu dia bisa melihat langsung bintang-bintang yang ada di langit. Ia tiduran di atas tikar itu sambil menatap langit.
“Hm, begitu indah”
Setiap malam ia suka menghabiskan waktu untuk melihat bintang. Entah di depan rumah, di lantai atas, di atas atap, atau di tempat lainnya sambil tiduran. Terkadang juga dia melihat bintang sambil makan cemilan. Terkadang ia membawa lampu kecil untuk  melihat bintang sambil membaca buku. Buku tentang rasi bintang. Ia lalu mencocokkan rasi bintang yang sedang muncul di langit.
“Itu namanya gubuk penceng. Bentuknya seperti gubuk tapi miring. Lalu yang itu, scorpio. Bentuknya seperti kalajengking.”
Adil suka sekali berlama-lama melihat bintang. Bahkan sampai ia ketiduran di luar rumah ketika melihat bintang. Kalau sudah begitu ibunya datang membangunkan.
“Adil, udah malam. Waktunya tidur. Jangan tidur di sini, dingin nak. Yuk masuk ke dalam. Tidurnya di kamar aja.”
“Ibu, lihat bintang yang itu, bagus ya.”
Mereka berdua lalu mengobrol dan bercanda sebentar sambil melihat bintang. Tak berapa lama mereka masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap untuk tidur.
Adil masuk kamar. Hari udah malam. Kamar Adil banyak dipenuhi dengan bintang. Adil memang suka sekali dengan bintang. Dia punya banyak mainan yang berbentuk bintang. Desain kamarnya menyerupai bintang. Tembok kamarnya banyak dipenuhi dengan gambar-gambar bintang. Dia juga menyusun lampu-lampu kecil berbentuk bintang yang nyalanya berkedip-kedip bergantian. Terkadang juga dia menyalakan lilin yang berbentuk bintang untuk menemani tidurnya.
“Selamat tidur, bintang.”
Dia tertidur lelap dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya.
Pagi menjelang. Adil membersihkan kamar dan rumah. Tiap satu bulan sekali ia menguras bak air kamar mandinya. Adil suka dengan kebersihan. Adil juga anak yang berbakti pada orang tua. Tiap disuruh untuk membantu orang tua dia slalu mengerjakan. Ketika dia sedang malas mengerjakan apa yang disuruh orang tuanya, dia minta waktu lima menit untuk bersantai dulu. Dia berusaha mengontrol perasaan tidak senang ataupun malas yang berkecamuk dalam hatinya. Ajaibnya setelah lima menit dia akan mengerjakan perintah itu dengan senyum.
“Minumnya nak, diminum dulu!”
Selesai membersihkan kamar dan rumah Adil minum segelas air susu yang sudah dibuatkan oleh ibunya. Adil melihati gelasnya. Ibu Adil sudah mengerti apa kesukaan anak laki-lakinya itu. Adil suka gelas berbentuk seperti buah Belimbing karena bagian bawahnya mirip bentuk bintang. Buah Blimbing adalah buah kesukaan Adil.
Selesai sarapan Adil berangkat ke sekolah. Di kelas dia memang murid yang biasa saja. Di waktu luangnya di sekolah ia suka menggambar langit penuh bintang. Entah itu di kertas ataupun di notebooknya. Entah kenapa ketika ia disuruh menggambar bintang, gambarnya terlihat bagus. Tapi ketika menggambar lainnya, justru gambarnya jelek. Gurunya pun sering memarahi Adil karena gambarnya yang jelek ketika objek yang digambarnya bukanlah bintang. Karena sudah mengetahui seperti itu, ketika ujian pun, gurunya meminta Adil menggambar bintang saja biar nilainya bagus.
“Adil, kamu nanti buat ujian semester menggambar bintang saja ya, biar hasilnya bagus!”
“ Siap Pak.” kata Adil sambil tersenyum.
Dan benar saja. Hasilnya selalu bagus bagi Adil untuk urusan menggambar bintang. Selain itu dia juga pintar jika diminta mendekorasi ruangan layaknya langit malam penuh bintang. Ketika teman-temannya membutuhkan sebuah dekorasi acara pesta ataupun kegiatan sekolah yang menginginkan kesan langit penuh bintang, Adil pasti akan dipanggil untuk membantu. Dan Adil pun senang membantu karena dia suka sesuatu yang berhubungan dengan bintang.
Adil pulang sekolah. Ia rebahkan badan di ranjang kamarnya. Di waktu santai Adil suka memasang headset lalu mendengarkan musik. Adil menyukai lagu-lagu tentang bintang. Meskipun itu lagu lama ataupun lagu baru. Ketika masih TK, lagu yang paling ia suka adalah bintang kecil. Ketika malam, dia suka juga tiduran sambil mendengarkan lagu-lagu tentang bintang sambil melihat bintang.
Terkadang  Adil suka memberikan kejutan istimewa untuk keluarga. Ketika kakaknya ulang tahun, dia tahu kakaknya ingin blackforest. Dia menghadiahkan blackforest itu kepada kakaknya. Blackforest itu berbentuk bintang. Tetap saja, ciri khas adil dengan bintangnya selalu ada.
“Wah, makasih Adil adikku.” sambil memluk adiknya yang lucu itu.
Kakaknya amat senang dengan hadiah dari adiknya itu. Suatu hari kejutan juga dibuat untuk ibunya. Adil ingn membuat kue yang berbentuk bintang. Karena itu dia membuka internet mencari-cari cara membuat kue enak berbentuk bintang. Ketemu. Dan dia mempraktekkannya di dapur.
“Sedang apa kamu nak?”
Ketika ditanya ibunya dia hanya tersenyum. Kue matang. Dia menghiasinya. Kue bintang itu terlihat begitu menarik. Adil lalu memberikan kue bintang untuk ibu.
“Ini kue buat Ibu.”
Ibu tersenyum sambil menitikkan air mata melihat si Adil yang bersusah payah membuatkan kue bintang untuknya. Apapun rasanya bagi ibu Adil itu terasa begitu lezat. Dia bangga pada anaknya.
Itulah kehidupan si Adil. Menurut Adil menjadi bintang itu bukan berarti tampil menonjol. Tapi memberikan pancaran ketenangan hati bagi siapa saja yang melihatnya.