Selasa, 26 Maret 2013

Basuki Diana

Alkisah di sebuah kehidupan, di tempat sejuk nan dingin, udara pagi berhembus semilir. Dalam sebuah rumah joglo nan keramat, terdapat sesosok pemuda dengan nama Basuki. Basuki Sudira Kesuma. Basuki melakukan kebiasaan sehari-harinya. Duduk di depan rumah, sambil melihat langit.
“Minggu nan cerah.”
“Apa yang ada di langit begitu indah. Butiran awan, lukisan alam penuh imajinasi, angin yang berhembus sepoi-sepoi.”
Angin bergerak ke arah timur. Di timur nan jauh, di sebuah rumah bergaya tahun 2000an seorang makhluk hawa berhias di depan kaca. Perempuan itu menyisir rambutnya dengan halus dan pelan seraya memandangi wajahnya di depan kaca.
“Apa aku terliat cantik? Apa aku menarik?”
Sudah kodrat ketika makhluk hawa harus tampil cantik dan menarik sehingga membuat makhluk adam tertarik.
“Demi hari, aku mencintai hari ini. aku menyayangi hidupku sendiri. Semua kulakukan yang terbaik untuk hidup ini. Langkahku, apapun itu, semua untuk masa depanku.”
Begitulah gumam si Basuki.
Detik demi detik terlewat. Hari berganti hari. Hari libur pun usai. Basuki harus kembali bekerja. Di pagi yang masih sunyi nan gelap, pria ini sudah membagunkan diri, merawat diri, membersihkan diri, dan bersiap diri ke tempat ia mencari nafkah.
Diana telah selesai mandi. Di kamar, dia memilih-milih baju apa yang akan ia kenakan. Layaknya seorang putri, penampilan itu harus diperhatikan.
“Meski aku tak secantik putri salju, aku hanya ingin diriku terlihat menarik.”
Setelah berhias diri selama satu jam, Diana pun bersiap untuk berangkat bekerja.
Dengan bergegas Basuki memakai sepatu. Roti dan susu sebagai menu utama pengganjal perut.
“Ready for today”
“Ready for today!”
Diana, si putri salju, telah siap. Dan berangkat ke tempat ia menghabiskan banyak waktunya. Ya, di kantor tempat ia bekerja.
Dan, pagi ini apakah akan menjadi lain dari biasanya? Basuki pun tak tahu.
Di jalan, ia berpapasan dengan seorang wanita, yang juga berangkat kerja. Entah kenapa, Basuki terpana melihat wanita itu. Wanita muda itu hanya tersenyum. Tersenyum senang karena ada pria yang kagum padanya. Itu seperti sebuah penghargaan atas lamanya ia berdandan dan berusaha tampil semenarik mungin.
“Oh kaum hawa, kenapa kalian selalu terlihat menawan. Tak sanggup aku untuk tak melirik wanita tadi.   Dia tidak cantik. Tapi, entah kenapa, aku, aku tak bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi padaku ini.”
Basuki melanjutkan langkah. Berkejaran dengan matahari yang telah terbit dan naik.
“Aku ingin mengenal makhluk hawa itu. Siapa namanya? Apa ia mau berkenalan denganku? Aku takut, mungkin dia tidak mau berkenalan dengan aku. Ah, sudahlah. Mungkin hanya wanita yang lewat saja.”

Tidak ada komentar: