Alkisah di sebuah kehidupan, di tempat sejuk nan dingin,
udara pagi berhembus semilir. Dalam sebuah rumah joglo nan keramat, terdapat
sesosok pemuda dengan nama Basuki. Basuki Sudira Kesuma. Basuki melakukan
kebiasaan sehari-harinya. Duduk di depan rumah, sambil melihat langit.
“Minggu nan cerah.”
“Apa yang ada di langit begitu indah. Butiran awan, lukisan
alam penuh imajinasi, angin yang berhembus sepoi-sepoi.”
Angin bergerak ke arah timur. Di timur nan jauh, di sebuah
rumah bergaya tahun 2000an seorang makhluk hawa berhias di depan kaca.
Perempuan itu menyisir rambutnya dengan halus dan pelan seraya memandangi
wajahnya di depan kaca.
“Apa aku terliat cantik? Apa aku menarik?”
Sudah kodrat ketika makhluk hawa harus tampil cantik dan
menarik sehingga membuat makhluk adam tertarik.
“Demi hari, aku mencintai hari ini. aku menyayangi hidupku
sendiri. Semua kulakukan yang terbaik untuk hidup ini. Langkahku, apapun itu,
semua untuk masa depanku.”
Begitulah gumam si Basuki.
Detik demi detik terlewat. Hari berganti hari. Hari libur
pun usai. Basuki harus kembali bekerja. Di pagi yang masih sunyi nan gelap,
pria ini sudah membagunkan diri, merawat diri, membersihkan diri, dan bersiap
diri ke tempat ia mencari nafkah.
Diana telah selesai mandi. Di kamar, dia memilih-milih baju
apa yang akan ia kenakan. Layaknya seorang putri, penampilan itu harus diperhatikan.
“Meski aku tak secantik putri salju, aku hanya ingin diriku
terlihat menarik.”
Setelah berhias diri selama satu jam, Diana pun bersiap
untuk berangkat bekerja.
Dengan bergegas Basuki memakai sepatu. Roti dan susu sebagai
menu utama pengganjal perut.
“Ready for today”
“Ready for today!”
Diana, si putri salju, telah siap. Dan berangkat ke tempat
ia menghabiskan banyak waktunya. Ya, di kantor tempat ia bekerja.
Dan, pagi ini apakah akan menjadi lain dari biasanya? Basuki
pun tak tahu.
Di jalan, ia berpapasan dengan seorang wanita, yang juga
berangkat kerja. Entah kenapa, Basuki terpana melihat wanita itu. Wanita muda
itu hanya tersenyum. Tersenyum senang karena ada pria yang kagum padanya. Itu
seperti sebuah penghargaan atas lamanya ia berdandan dan berusaha tampil
semenarik mungin.
“Oh kaum hawa, kenapa kalian selalu terlihat menawan. Tak
sanggup aku untuk tak melirik wanita tadi. Dia
tidak cantik. Tapi, entah kenapa, aku, aku tak bisa menjelaskan apa yang baru
saja terjadi padaku ini.”
Basuki melanjutkan langkah. Berkejaran dengan matahari yang
telah terbit dan naik.
“Aku ingin mengenal makhluk hawa itu. Siapa namanya? Apa ia
mau berkenalan denganku? Aku takut, mungkin dia tidak mau berkenalan dengan
aku. Ah, sudahlah. Mungkin hanya wanita yang lewat saja.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar