Selasa, 26 Maret 2013

Basuki Diana

Alkisah di sebuah kehidupan, di tempat sejuk nan dingin, udara pagi berhembus semilir. Dalam sebuah rumah joglo nan keramat, terdapat sesosok pemuda dengan nama Basuki. Basuki Sudira Kesuma. Basuki melakukan kebiasaan sehari-harinya. Duduk di depan rumah, sambil melihat langit.
“Minggu nan cerah.”
“Apa yang ada di langit begitu indah. Butiran awan, lukisan alam penuh imajinasi, angin yang berhembus sepoi-sepoi.”
Angin bergerak ke arah timur. Di timur nan jauh, di sebuah rumah bergaya tahun 2000an seorang makhluk hawa berhias di depan kaca. Perempuan itu menyisir rambutnya dengan halus dan pelan seraya memandangi wajahnya di depan kaca.
“Apa aku terliat cantik? Apa aku menarik?”
Sudah kodrat ketika makhluk hawa harus tampil cantik dan menarik sehingga membuat makhluk adam tertarik.
“Demi hari, aku mencintai hari ini. aku menyayangi hidupku sendiri. Semua kulakukan yang terbaik untuk hidup ini. Langkahku, apapun itu, semua untuk masa depanku.”
Begitulah gumam si Basuki.
Detik demi detik terlewat. Hari berganti hari. Hari libur pun usai. Basuki harus kembali bekerja. Di pagi yang masih sunyi nan gelap, pria ini sudah membagunkan diri, merawat diri, membersihkan diri, dan bersiap diri ke tempat ia mencari nafkah.
Diana telah selesai mandi. Di kamar, dia memilih-milih baju apa yang akan ia kenakan. Layaknya seorang putri, penampilan itu harus diperhatikan.
“Meski aku tak secantik putri salju, aku hanya ingin diriku terlihat menarik.”
Setelah berhias diri selama satu jam, Diana pun bersiap untuk berangkat bekerja.
Dengan bergegas Basuki memakai sepatu. Roti dan susu sebagai menu utama pengganjal perut.
“Ready for today”
“Ready for today!”
Diana, si putri salju, telah siap. Dan berangkat ke tempat ia menghabiskan banyak waktunya. Ya, di kantor tempat ia bekerja.
Dan, pagi ini apakah akan menjadi lain dari biasanya? Basuki pun tak tahu.
Di jalan, ia berpapasan dengan seorang wanita, yang juga berangkat kerja. Entah kenapa, Basuki terpana melihat wanita itu. Wanita muda itu hanya tersenyum. Tersenyum senang karena ada pria yang kagum padanya. Itu seperti sebuah penghargaan atas lamanya ia berdandan dan berusaha tampil semenarik mungin.
“Oh kaum hawa, kenapa kalian selalu terlihat menawan. Tak sanggup aku untuk tak melirik wanita tadi.   Dia tidak cantik. Tapi, entah kenapa, aku, aku tak bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi padaku ini.”
Basuki melanjutkan langkah. Berkejaran dengan matahari yang telah terbit dan naik.
“Aku ingin mengenal makhluk hawa itu. Siapa namanya? Apa ia mau berkenalan denganku? Aku takut, mungkin dia tidak mau berkenalan dengan aku. Ah, sudahlah. Mungkin hanya wanita yang lewat saja.”

Tentang Bintang

Adil. Namanya Adil Ramli. Dia hanya seorang anak SMP biasa. Dia berasal dari kalangan keluarga yang biasa-biasa saja. Ayahnya seorang guru. Dan ibunya seorang wanita karir.  Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Dari kecil, Adil adalah anak baik yang penurut. Dia cenderung tidak macem-macem dalam menjalani hidup. Dan soal prestasi akademis, dia termasuk biasa-biasa saja.
Namun begitu ada sesuatu yang lain dari seorang Adil. Dia orang yang berusaha terlihat tenang dalam segala situasi. Jarang sekali raut mukanya terlihat gundah, meskipun ia berada dalam tekanan.
“Adil, main yuk..”
Dia cenderung suka berteman dengan siapa saja. Diajak bermain dengan siapa pun dia mau. Entah itu dengan tetangga, ataupun teman sekolah. Orangnya begitu santai. Senyuman tidak pernah habis keluar dari mulutnya. Pernah suatu hari ada pertengkaran hebat diantara teman-temannya. Dia diharuskan untuk memilih ikut grup mana, grup Hendro atau grup Rudi.
“Kamu bela yang mana, aku atau dia?”
“Aduh, perutku sakit, gak enak badan sepertinya. Aku pulang dulu y gak ikut main. Maaf.”
Begitulah si Adil. Suka meninggalkan situasi berkonflik. Ia cenderung menyukai kedamaian. Ketika ada masalah yang mengharuskan dia untuk memilih diantara pihak yang berkonflik, dia cenderung berpura-pura sakit dan pergi menghindari, sehingga tak ada satupun yang di pihak. Ketika konflik temannya selesai, dia baru muncul kembali. Mungkin Adil tahu bahwa pertengkaran di antara teman-temannya itu hanya untuk sementara saja. Cepat atau lambat pasti akan reda juga. Dia tidak pernah ikut campur dalam pertengkaran orang lain.
Malam hari tiba. Saat yang ia tunggu-tunggu. Melihat kilauan bintang di langit. Dengan segera ia menggelar tikar di teras rumahnya. Dari teras rumahnya itu dia bisa melihat langsung bintang-bintang yang ada di langit. Ia tiduran di atas tikar itu sambil menatap langit.
“Hm, begitu indah”
Setiap malam ia suka menghabiskan waktu untuk melihat bintang. Entah di depan rumah, di lantai atas, di atas atap, atau di tempat lainnya sambil tiduran. Terkadang juga dia melihat bintang sambil makan cemilan. Terkadang ia membawa lampu kecil untuk  melihat bintang sambil membaca buku. Buku tentang rasi bintang. Ia lalu mencocokkan rasi bintang yang sedang muncul di langit.
“Itu namanya gubuk penceng. Bentuknya seperti gubuk tapi miring. Lalu yang itu, scorpio. Bentuknya seperti kalajengking.”
Adil suka sekali berlama-lama melihat bintang. Bahkan sampai ia ketiduran di luar rumah ketika melihat bintang. Kalau sudah begitu ibunya datang membangunkan.
“Adil, udah malam. Waktunya tidur. Jangan tidur di sini, dingin nak. Yuk masuk ke dalam. Tidurnya di kamar aja.”
“Ibu, lihat bintang yang itu, bagus ya.”
Mereka berdua lalu mengobrol dan bercanda sebentar sambil melihat bintang. Tak berapa lama mereka masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap untuk tidur.
Adil masuk kamar. Hari udah malam. Kamar Adil banyak dipenuhi dengan bintang. Adil memang suka sekali dengan bintang. Dia punya banyak mainan yang berbentuk bintang. Desain kamarnya menyerupai bintang. Tembok kamarnya banyak dipenuhi dengan gambar-gambar bintang. Dia juga menyusun lampu-lampu kecil berbentuk bintang yang nyalanya berkedip-kedip bergantian. Terkadang juga dia menyalakan lilin yang berbentuk bintang untuk menemani tidurnya.
“Selamat tidur, bintang.”
Dia tertidur lelap dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya.
Pagi menjelang. Adil membersihkan kamar dan rumah. Tiap satu bulan sekali ia menguras bak air kamar mandinya. Adil suka dengan kebersihan. Adil juga anak yang berbakti pada orang tua. Tiap disuruh untuk membantu orang tua dia slalu mengerjakan. Ketika dia sedang malas mengerjakan apa yang disuruh orang tuanya, dia minta waktu lima menit untuk bersantai dulu. Dia berusaha mengontrol perasaan tidak senang ataupun malas yang berkecamuk dalam hatinya. Ajaibnya setelah lima menit dia akan mengerjakan perintah itu dengan senyum.
“Minumnya nak, diminum dulu!”
Selesai membersihkan kamar dan rumah Adil minum segelas air susu yang sudah dibuatkan oleh ibunya. Adil melihati gelasnya. Ibu Adil sudah mengerti apa kesukaan anak laki-lakinya itu. Adil suka gelas berbentuk seperti buah Belimbing karena bagian bawahnya mirip bentuk bintang. Buah Blimbing adalah buah kesukaan Adil.
Selesai sarapan Adil berangkat ke sekolah. Di kelas dia memang murid yang biasa saja. Di waktu luangnya di sekolah ia suka menggambar langit penuh bintang. Entah itu di kertas ataupun di notebooknya. Entah kenapa ketika ia disuruh menggambar bintang, gambarnya terlihat bagus. Tapi ketika menggambar lainnya, justru gambarnya jelek. Gurunya pun sering memarahi Adil karena gambarnya yang jelek ketika objek yang digambarnya bukanlah bintang. Karena sudah mengetahui seperti itu, ketika ujian pun, gurunya meminta Adil menggambar bintang saja biar nilainya bagus.
“Adil, kamu nanti buat ujian semester menggambar bintang saja ya, biar hasilnya bagus!”
“ Siap Pak.” kata Adil sambil tersenyum.
Dan benar saja. Hasilnya selalu bagus bagi Adil untuk urusan menggambar bintang. Selain itu dia juga pintar jika diminta mendekorasi ruangan layaknya langit malam penuh bintang. Ketika teman-temannya membutuhkan sebuah dekorasi acara pesta ataupun kegiatan sekolah yang menginginkan kesan langit penuh bintang, Adil pasti akan dipanggil untuk membantu. Dan Adil pun senang membantu karena dia suka sesuatu yang berhubungan dengan bintang.
Adil pulang sekolah. Ia rebahkan badan di ranjang kamarnya. Di waktu santai Adil suka memasang headset lalu mendengarkan musik. Adil menyukai lagu-lagu tentang bintang. Meskipun itu lagu lama ataupun lagu baru. Ketika masih TK, lagu yang paling ia suka adalah bintang kecil. Ketika malam, dia suka juga tiduran sambil mendengarkan lagu-lagu tentang bintang sambil melihat bintang.
Terkadang  Adil suka memberikan kejutan istimewa untuk keluarga. Ketika kakaknya ulang tahun, dia tahu kakaknya ingin blackforest. Dia menghadiahkan blackforest itu kepada kakaknya. Blackforest itu berbentuk bintang. Tetap saja, ciri khas adil dengan bintangnya selalu ada.
“Wah, makasih Adil adikku.” sambil memluk adiknya yang lucu itu.
Kakaknya amat senang dengan hadiah dari adiknya itu. Suatu hari kejutan juga dibuat untuk ibunya. Adil ingn membuat kue yang berbentuk bintang. Karena itu dia membuka internet mencari-cari cara membuat kue enak berbentuk bintang. Ketemu. Dan dia mempraktekkannya di dapur.
“Sedang apa kamu nak?”
Ketika ditanya ibunya dia hanya tersenyum. Kue matang. Dia menghiasinya. Kue bintang itu terlihat begitu menarik. Adil lalu memberikan kue bintang untuk ibu.
“Ini kue buat Ibu.”
Ibu tersenyum sambil menitikkan air mata melihat si Adil yang bersusah payah membuatkan kue bintang untuknya. Apapun rasanya bagi ibu Adil itu terasa begitu lezat. Dia bangga pada anaknya.
Itulah kehidupan si Adil. Menurut Adil menjadi bintang itu bukan berarti tampil menonjol. Tapi memberikan pancaran ketenangan hati bagi siapa saja yang melihatnya.

Selasa, 25 Desember 2012

Biru Embun


By Binjalang

Bunga tercipta untuk mekar
Daun di musim gugur berjatuhan
Tapi di musim semi daun akan tumbuh lagi
Seperti air beriak di sungai
Alirannya berjalan terus
Sampai menemukan titik muara
Bumi bulat
Terus bergulir menggelinding
Laju bola apapun dan bagaimanapun selalu maju
Tak mungkin mundur


“Pri..”
“Hm?”
Pri bangun. Serasa dibangunkan. Tapi tak ada yang membangunkannya.
“Sudah pagi ya.”
Matanya menerawang melihat ke jendela.
“Saatnya bangun Pri. Ayo bangun, waktunya kerja.”
Dengan mulet sedikit,
“Satu, dua, tiga, empat, lima,........, enam puluh, bangun!”
Handuk diambil dan pergilah ia ke kamar mandi.
Pergilah kasih kejarlah keinginanmu. Selagi masih ada waktu. Jangan hiraukan diriku.
Pri nyanyi gak jelas di kamar mandi. Dibasahi sekujur tubuhnya. Semua menjadi bersih dan wangi.
“Semua udah siap, udah rapi, udah perfect, ga ada yang ketinggalan, oke, ayo pergi.”
Pri mengendarai motornya ke kantor. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke kantornya dengan bersepeda motor.
“Gedungku tercinta.”
Pri menatap kantornya. Ia baru saja tiba dan melangkahkan kakinya ke dalam kantor itu. Kantor itu berwarna biru. Banyak kaca-kaca menghiasi ruangan. Layaknya gedung-gedung pencakar langit di kota besar.
“Selamat siang Pak.”
“Siang.”
Pri adalah karyawan biasa. Dia bekerja di bidang evaluasi kinerja perusahaan. Perusahaan tempatnya memang sedang berkembang. Dan ia berusaha untuk ikut tumbuh berkembang bersama perusahaan itu.
“Sekarang bulan apa?”
“November Pak.”
“Oke rencanakan evaluasi perusahaan untuk November ini karena ini sudah akhir November”
“Siap Pak.”
Pri menyambut perintah bosnya. Dinyalakan laptop di mejanya. Dokumen-dokumen yang ada dipersiapkan. Dan pekerjaan pun dimulai.
***
“Jam 12 siang. Waktunya makan.”
Bergegas Pri keluar ke tempat makan di dekat kantornya. Yah sekalian ngobrol-ngobrol kalo ketemu temen. Ato mungkin kalo ada cewek cantik lumayan lah enak buat dipandang. Hehe.
Ada tempat makan enak di sekitar tempat Pri. Warung Nasi Pecel. Pri suka nasi pecel. Kebetulan tempat lagi penuh. Dan tinggal ada satu tempat duduk di samping cewek muda berpenampilan menarik.
“Boleh aku duduk di sini? Tempat lainnya ga ada yang kosong.”
“Oh iya, silakan.”
Sambil makan Pri mengajak wanita itu mengobrol sejenak. Yah, untuk melepas kepenatan di kantor.
“Kerja dimana?”
“Itu di sebelah. Di online shop Libera Citra”
“Oh, “
“Kamu?”
“Aku di Mitra Karya. Suka makan di sini?”
“Enggak, aku suka makan di sana. Hehe, aku bo’ong. Iya aku suka makan di sini pas makan siang. Tempatnya deket. Rasanya juga sesuai ma lidah”
“Sama aku juga. Nurutku enak si makanan di sini. Oh ya nama kamu siapa? Dari tadi udah ngobrol panjang lebar tapi belum tau namanya.”
Mereka berdua tersenyum.
“Oh, sorry. Namaku Luna.”
“Pri.”
Dan begitulah terjadinya perkenalan antara Luna dan Pri. Waktu makan siang. Ya asal buat temen ngobrol aja.
***

Siang ini masih jam 11. Tapi Pri sudah kelaparan.
“Aduh laper banget. Gara-gara cepet-cepet ngerjain tugas ni. Gak sempet sarapan. Sarapan cuma roti jam segini udah kelaperan.”
“Ya udah makan aja lah Pri.” Eko menyahut.
“Enggak ah. Tanggung. Sebentar lagi juga jam 12. Dimarahin bos entar lum jam istirahat dah kabur duluan. Haha”
Waktu terasa begitu lambat berputar.
“Teng. Jam 12. Langsung cabut ke tempat makan.”
“Ye, ni orang cepet banget ngaburnya lok lagi kelaperan.“
Pri ke warung nasi pecel kesukaannya. Dan kali ini ia dapet tempat duduk. Langsung dilahap aja semua makanan bak orang kelaperan habis kerja di sawah 3 hari 3 malam.
“Hei Pri, ketemu lagi nih.”
Pri pun kaget. Makannya diperlambat. Sejenak Pri mengarahkan matanya ke orang yang menyapa dia siang ini.
“Luna”
“Aku duduk di sini ya. Udah penuh tempatnya.”
“Oh oke, duduk-duduk.”
Pri semakin melambatkan makannya. Dengan terus tersenyum Pri dan Luna ngobrol.
“Hari ini gantian ya aku yang nyari tempat duduk yang udah penuh.”
“Iya tadi uda kelaperan duluan. Pagi sarapan dikit banget gara-gara ada tugas kantor yang harus dikerjain cepet. Untung uda selesai tadi.”
“Hm, pantesan cepet banget nyampek di warung. Haha.”
Pri menatap Luna. Luna itu sosok yang menarik. Asik.
Pri makan. Gantian Luna menatap Pri. Pri itu baik. Asik. 
“Oh ya, boleh minta nomer hp nya gak?”
“Boleh, ni kartu namaku. Call me ya?” sambil senyum dan mengangkat tangan ke samping kuping seperti orang menelpon.
“Oke. Makasi yak.”
***
Pri lagi sendirian aja di kamar.
Malam-malam aku sendiri, tanpa dirimu lagi.
Iringan lagu Nike Ardila menemani Pri. Terngiang-ngiang.
“Mau ngapain ya.”
Pri liat-liat hapenya. dia melihat daftar nama yang ada di hapenya. dan sampailah pada satu nama, Luna. Sejenak Pri ragu mau menghubungi Luna. Temen yang baru dia kenal. Pri meletakkan hapenya lagi di meja. Pri melamun. Lalu ambil lagi hapenya. Pri berpikir sejenak. Lalu mengetikkan sesuatu di hapenya.
Malem Luna.
Pri.
Sebentar aja lalu ada balasan.
Hei, mlm juga Pri
J 
“lgi ngapain ni?”
“lagi mikirin kamu”
“ -.- langsung digombalin dah aku”
“ :D”
***
Jam pulang kantor. Pri udah bersiap-siap. Tenggo. Begitu jam 5 teng langsung go.
Pri menyalakan sepeda motornya. Jalanan yang penuh dengan kendaraan dengan orang-orang yang baru pulang dari bekerja ditempuh oleh Pri. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang wanita yang nampaknya ia kenal.
“Lun.”
“Oh, hai Pri”
“Mau kemana?”
“Pulang ni.”
“Ma aku yuk. Aku anter.”
Luna berpikir bentar.
“Udah ayuk ma aku aja. Aku anter sampe tujuan kok. Gak bakalan aku turunin di tengah jalan. Kecuali emang lagi mogok. Hehe”
Luna tersenyum. Lalu mendekat ke Pri. Luna dan Pri pulang bersama.
“Kamu biasanya pulang jam 5 Lun?”
“Iya, jam pulangku si emang jam 5. Lok gak ada tugas banyak ya langsung pulang. Lok pas ada yang harus diselesaiin hari itu juga ya terpaksa lembur dah aku.”
“Sama, aku juga jam 5 sore pulangnya. Kadang-kadang gak langsung pulang si. Ngobrol-ngobrol dulu ma temen-temen. Ato hang out ke mana dulu gitu.”
 “Udah sampai. Tuh turun di depan aja Pri. Yang pager ijo. Itu tempatku.”
“Oke Lun.”
“Mau mampir bentar Pri?”
“Enggak Lun, aku mau langsung balik aja.”
“Makasi Pri buat tumpangannya.”
“Sip.”
***

Dunia
Dua insan terkadang mencari
Terkadang juga dipertemukan
Roman insan muda mudi
Hilir naik
Kemana dan apa yang dibawa kemudi
Hari berganti hari
Semua dilewati dan dinikmati
Air meresap menembus tanah
Tapi air tak bisa melewati lapisan plastik
Burung menari
Bunga mewangi
Musim semi menjelang
Hangat

“Sabtu mau ngapain ya? Pengen keluar tapi gak ada temen.”
Pri mengutak atik laptopnya. Lalu gantian hapenya yang diutak atik. Seolah si hape lagi rusak. Padahal gak ada cacat di hape itu.
Lun, sabtu besok kamu ada acara gak?
Tuut..
Gak ada. Knp Pri?
Jalan-jalan yuk Lun?
Tuut..
Boleh, kemana?
Kasi tau gak ya. Haha
Tuut..
Dasar.
Tapi nggak ada yang marah kan aku ngajak kamu jalan-jalan?
Tuut..
Enggak kok Pri. Santai aja.
Oke sabtu jam setengah delapan aku ke tempatmu ya?
Tuut..
Aku tunggu J 
****
“Kamu mau makan apa?”
“Aku ini aja deh.”
“Oke, mbak ayam bakar pedas manis dua sama lemon tea dua yak. Gak pake lama.”
“Lama juga gapapa kali. Biar bisa berduaan terus. Haha”
“Aku tersipu malu ni Lun.”
“Haha.”
Di tengah rembulan yang bersinar sepasang muda mudi duduk bersama menimati indahnya malam minggu. Diwarnai kerlap kerlip bintang dan cahaya lampu yang bergantian menyala antara satu dan lainnya, saling melengkapi dan membentuk kesan indah.
“Gimana kerjaan di kantor?”
“Asik-asik aja si. Bosnya enak. Baik. Suka nraktir lagi. Kadang kerjaan banyak. Tergantung order si. Pas lagi banyak ato pas lagi sepi. La kamu sendiri Pri?”
“Aku, dimanapun aku bekerja, aku akan melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Apapun dan gimanapun kondisinya. Harus siap fight.”
“Mantep bener dah ni orang”
“Lagak cool ke Luna.”
“Hu, kepedean Lu Pri. Haha”
“Senyum Luna buatku ga tahan.”
“Ga tahan kenapa?”
“Ga tahan pengen pipis. hehe”
“Ye, bilang aj kebelet pipis. Pergi sana gih nyari toilet!”
“Kabur. Haha”
***
Nonton yuk Lun?
Nonton apa?
Nonton yang bisa ditonton.
Kamu aja udah jadi tontonan yang menarik buat aku.
-,- mulai deh luna nggombal
:D

Luna dan Pri nonton di bioskop. Lampu mulai mati. Film pun dimulai. Di tengah asiknya nonton film, Pri dengan mata memandang ke film, tangan Pri mulai memberanikan diri untuk memegang tangan si Luna. Luna seperti terkejut. Pri pura-pura nggak tahu dan asik menonton filmnya. Luna pun melanjutkan nonton filmnya. Tanpa melepaskan tangan si Pri.

Getaran
Getaran itu mulai terasa
Menyusup masuk ke dua insan
Dua insan yang lagi kasmaran
Dunia indah ini tak mau terlepas
Ada momen
Dimana kita bisa menikmati hidup
Meski tiap hari dipenuhi dengan tantangan
Selalu ada kenikmatan
***
Di tengah taman di malam hari, Pri menggelar karpet sebagai alas.
“Sini Lun!”
Luna dan Pri tidur telentang memandang ke atas. Melihat pemandangan langit yang menawan.
“Ku suka liat pemandangan langit dari kecil”
“Aku juga suka liat pemandangan langit. Palagi lok liatnya ma kamu.”
“Hm, mulai ya ikut nggombal kamu Pri”
“Iya donk ikut ngimbangin. Siapa dulu yang ngajarin?”
“Miss Luna”
“Hu, besar kepala kamu. Aku cubit ntar pipi kamu”
“Ih, jangan.”
“Sini-sini aku cibit”
“Aw. Aw, aw, haha”
“Aku cubit ganti ni kamu”
“Haha”
Mereka pun menghabiskan malam itu berdua di taman. Taman langit. Taman yang begitu indah bagi mereka.
“Lun?”
“Hm? Apa Pri?”
“Kamu mau gak jadi pacar aku?”
“Kenapa kamu ingin aku jadi pacar kamu?”
“Karena aku da milih kamu.”
Mata Luna dan Pri bertatapan. Seolah kini mata merekalah yang berbicara. Sesaat. Luna menebarkan senyumnya. Pri pun ikut tersenyum.
***

Pagi ini Pri dan Luna pergi ke danau.
“Kita mau ngapain Pri?”
“Mancing”
“Serius?”
“Kita mau menghabiskan waktu di tengah danau.”
Luna tersenyum. Perahu itu mulai melaju ke tengah-tengah danau. Mereka berdua menghabiskan waktu di tengah air yang penuh dengan ikan dan pemandangan yang menakjubkan.
“Eh, itu ada ikan. Ikannya makan umpanmu Pri.”
Pri langsung menarik kailnya. Entah berapa ikan yang sudah didapat mereka. Mereka berdua senang.
“Lun?”
“Iya Pri?”
“Aku sayang kamu.”
“Aku juga sayang ma kamu Pri.”
Suasana begitu tenang. Pri dan Luna bertatapan. Mereka berdua memejamkan mata. Pri mencium Luna.

“Pri?”
“Apa sayang?”
“Malam ini kamu tidur di tempatku ya?”
“Kenapa?”
“Aku lagi pengen kamu temenin. Dalam tidurku pun aku pengen kamu terus nemenin aku.”
“Aku akan slalu nemenin kamu Lun. Aku slalu ada buat kamu.”
Pri tidur dengan Luna. Luna tidur di ranjang, dan Pri tidur di bawah.
“Met bobok Luna.” ucap Pri sambil membelai rambut Luna.
“Met bobok Pri.”
Tak henti-henti Luna memandangi Pri. Sampai akhirnya Luna memejamkan matanya.
***

Hari ini hari yang spesial buat Luna.
“Happy Birthday Luna. Ini kado buat kamu.”
“Apa ini? Aku buka ya?”
Luna membuka kadonya dari Pri.
“Boneka beruang. Kok bisa tau si aku suka boneka beruang? Imut banget.”
Pri hanya tersenyum.
“Makasi ya Pri.”
Boneka beruang warna pink yang kecil dan lucu. Boneka yang disukai Luna. Setiap pergi jalan-jalan Luna suka liat boneka itu. Baru kali ini Pri membelikannya untuk Luna sebagai hadiah ulang tahunnya.
***

Pri merencanakan sebuah candle light dinner bareng Luna.
“Lun, candle light dinner yuk?”
“Serius?”
“Iya serius.”
Luna membayangkan suasana yang romantis bareng Pri. Pri mengajak Luna ke suatu tempat. Tempat tinggal Pri. Pri mengajak Luna ke ruang makan.
“Duduk sini Lun.”
Lampu tidak ada yang menyala. Hanya lilin-lilin kecil yang menemani mereka.
Pri mengambilkan makanan untuk luna.
“Ni buat kamu”
“Makasih”
Mungkin bagi Luna ini gak seindah yang dibayangin. Tapi bersama Pri suasana apapun akan terasa indah. Mereka menikmati makan malam itu.
Minggu depannya Pri mengajak Luna keluar.
“Lun, makan yuk. Laper.”
“Ayuk, aku juga laper ni.”
“Makan dimana?”
“Entar deh aku tunjukin. Kamu ikut aja.”
Luna diajak ke sebuah tempat. Di restoran di lantai 12 sebuah mall. Restoran itu terbuka. Udara segar bisa dihirup dari sini. Pemandangan kota dari atas begitu indah untuk dilihat. Di atasnya terlihat taburan bintang kerlap-kerlip. Lilin-lilin menyala remang menciptakan suasana elok menawan. Ditemani lantunan lagu nan memikat membuat suasana semakin nyaman.
“Kamu suka tempat ini Lun”
“Suka. Suka banget.”
“Yuk makan.”
“Ini romantis banget Pri.”
“Kamu coba makanan ini. hak..”
Pri menyuapkan makanan di sendoknya ke Luna.
“Gimana rasanya? Enak gak?”
“Enak. Enak banget. Palagi yang nyuapin kamu. Bener-bener terasa enaknya.”

 I don’t wanna close my eyes, I don’t wanna fall asleep cause I miss you beibeh and I don’t want miss a thing.

***

Hari ini terasa berbeda. Langkah Pri terasa berat. Begitu juga Luna.
“Lun.”
“Pri.”
Pri menarik nafas panjang.
“Sepertinya udah saatnya Lun.”
“Iya Pri, aku rasa juga begitu.”
Mata mereka berdua kembali bertatapan.
“Makasih Lun.”
“Aku juga Pri.”
Luna dan Pri melangkahkan kakinya. Kali ini ke arah yang berbeda. Mereka berdua terlihat begitu tegar. Meskipun sebenarnya sakit menyayat-nyayat di dalam. Percintaan dewasa, sakit dan senang seperti tak ada beda. Ada maupun tak ada cinta, tak terlihat oleh kasat mata.

***

Pri menyiapkan barang-barangnya. Kali ini ia mau bepergian jauh. Perjalanan akan ditempuh selama berjam-jam dengan bis.
“Oke udah siap, berangkat Pri.” Pri berkata ke dirinya sendiri.
Setiba di terminal Pri mencari tempat duduknya.
“Kursi nomor 22. Ini dia. “
Pri duduk di dalam bis sambil melihat banyak orang hilir mudik lalu lalang di terminal. Ada yang mau pulang, ada juga yang baru datang.
“Ini kursi nomor 21?”
Pri melihat ke atas
“Oh iya benar.”
Wanita itu duduk di sebelah Pri.
“Mau ke mana?”
“Mau ke rumah nenek Mas. Mas sendiri mau ke mana?”
“Aku mau jalan-jalan aja ke tempat temen.”
Penumpang sudah penuh. Bis mulai bergerak melaju.
“Oh ya namanya siapa?”
“Santi.”
“Pri.”

Layaknya embun pagi
Sejuk dan indah
Di langit yang biru
Begitu nyaman
Embun hilang
Jelang siang
Lanjut malam
Ketika pagi kembali
Embun baru datang
Embun segar
Di langit biru

*****