Daun-daun jatuh berguguran tertiup angin. Malam ini dua
insan sedang duduk. Debur ombak mengisi sunyi malam ini. di pantai. Anyer,
antara aku dan dia.
“Ka.”
Eka hanya terdiam memandangi laut dengan ombaknya yang
bergemuruh di malam itu.
“Harusnya ini gak pernah terjadi”
Aku dan dia merenung. Memandangi laut. Eka menarik napas
dalam-dalam.
“Perasaan ini datang begitu tiba-tiba. Kita udah bersama
sejak kuliah. Udah delapan tahun kita bersama. Perasaan itu begitu saja datang
menyelinap ketika kita ikut training perusahaan. Dan aku semakin tidak bisa
menyembunyikan perasaan itu. “
Angin berhembus dalam, membelai-belai rambutnya yang manis.
“Aku ngrasa bersalah ke pasanganku. Aku juga bener-bener ga
enak ke pacarmu. Bukan tipeku untuk ngrebut cewek orang. Aku juga, ketika
berhubungan dengan seseorang, aku akan setia ma orang itu. Di masa laluku
hampir selalu pasanganku lah yang mutusin aku. Aku slalu berusaha setia ke
mereka. Mungkin mereka yang bosan terhadapku. “
“Kita, emang ditakdirkan ga pernah bersama Ka, “
“Yang membuatku kaget adalah, ketika sesi perpisahan, waktu
aku ngomongin kamu, kata temen-temen, kamu kliatan salah tingkah dan menjadi
bukan Eka yang biasanya. Itu benar-benar membuatku kaget. Aku pikir wajarlah
kalo aku cowok culun kek gini suka ke cewek super cantik kek kamu. Tapi, jika
kebalikannya yang terjadi, itu adalah di luar dugaankau. Dan aku tak tau gimana
cara menyikapinya. Kamu emang anggap aku teman. Dan aku emang anggap kamu
teman. Emang lebih baik kita berteman saja.”
“Udah berkali-kali
mungkin kita dalam satu kelompok. Dan hasilnya hampir selalu bagus. Dan
baru sekali kita satu kelompok dan hasilnya mengecewakan. Itu amat memukulku.
Aku kecewa ma diriku sendiri. Dan aku ngrasa bersalah ke kamu karena gak bisa
menghasilkan yang terbaik untuk kita. Kamu mungkin ambisius. Ketika kalah, akan
terlihat jelas wajahmu yang murung. Jadi, aku berusaha menghibur kamu sembari
menghibur diriku sendiri buat nutupi sakit itu. Aku juga gak terbiasa dengan
kalah. Dan aku gak suka kalah.“
“Hari pertama masuk kerja temen-temen pada rame ngomongin
kita. Tentang perubahan aku atau kamu. Tak tahu aku berapa orang yang
menanyaiku. Aku hanya ingin memastikan gimana respon kamu ke aku. Apa baik-baik
aja ato gimana. Dan sedikit terlihat kamu seperti salah tingkah ketika
menghadapi aku. Seperti yang dikatakan teman-teman ke aku. Aku sempet bimbang,
apakah aku akan mengejarmu, ato tetap setia ma pasanganku. Karena ku dah punya
pasangan, dan kamu juga udah punya pasangan, aku memutuskan untuk melepasmu
saja. Kita mungkin hanya berteman saja, paling jauh menjadi teman dekat atau
sahabat, ga lebih dari itu. Tapi aku juga sangsi apa bisa kita jadi teman
dekat, mengingat perbedaan kita yang begitu jauh bak langit dan bumi. Kamu suka
berteman dengan teman-teman seperti itu, sedangkan aku suka berteman dengan
teman yang itu-itu aja. Kita itu beda level. Begitu jauh. Kamu kasta brahmana.
Sedangkan aku hanya kasta sudra. Seorang pengemis. Hanya seorang binatang
jalang. Dari kumpulannya yang terbuang.”
“Makin hari aku merasa aku makin aneh. Dan entah kenapa, aku
juga merasa kamu juga makin aneh. Aku gak bisa mengerti dengan perasaanku
meskipun aku sudah memutuskan setia ke pasanganku.”
“Ka, jika kita jodoh suatu saat nanti, biarlah takdir yang
mangarahkan kita untuk ke arah itu. Tanpa harus melukai siapapun. Jika kita
tidak berjodoh, memang sudah seharusnya seperti itu. “
Eka seperti menulis-nulis sesuatu di pasir.
“Met, aku juga meminta maaf atas ketelodaranku waktu itu.
Aku bukan salah tingkah, aku hanya tak tahu harus berbuat apa ke kamu. Aku
kasihan ke kamu. Aku hanya menghormati kamu, karena kamu cowok baik-baik.
Sehingga aku ga berani berkata-kata kasar ke kamu. Hingga aku diam aja ketika
kamu berkata panjang lebar. “
“Aku juga gak tau ketika aku tiba-tiba menjadi aneh, dan
mersa kamu jadi aneh, sempet marah-marahi kamu. Aku berusaha setia ke pacarku.
Aku kan da bilang ke kamu dari dulu aku anggap kamu sebagai temen. Dan sampe
sekarang aku juga anggap kamu sebagai teman aja. Jadi biasa aja ke aku. Aku gak
nyaman lok kamu terlalu dekat ke aku. Iya, kita emang gak level, perbedaan kita
terlalu jauh. Kasihan kamu entar gak bisa ngimbangin aku, bahkan sebagai
temanpun kamu gak bisa ngimbangin aku. Mungkin aku akan males buat deket-deket
kamu karena kamu seperti mempermalukanku dan membuat imej aku turun. “
“Tentang yang dikatakan teman-teman, itu semua gak bener Met.
Kamu jangan terpengaruh. Aku uda terbiasa digosipin seperti itu padahal gak
terjadi apa-apa. Kamunya aja yang gak terbiasa dan menjadi begitu cepat geer ke
aku. Kamu tetep aja dari dulu jadi objek bully temen-temen. Gak bosan napa kamu
itu.”
“Itulah kenapa Ka akhir-akhir ini aku suka menghindari
temen-temen. Karena setiap ketemu temen-temen, dengan alasan aku gak pernah
ngomong ato apa, aku selalu dibully dan dijadikan objek. Aku juga muak. Aku
lebih baik menyendiri aja daripadda mempermalukan diriku di depan orang banyak
tanpa ku sadari. Apalagi di depan kamu.“
“Hiduplah dengan cara kamu sendiri Met, hiduplah dengan
segala keunikanmu. Langkahkan kakimu sejauh yang kamu bisa.”
“Makasih Ka.”
Pembicaraan berakhir. Hari semakin larut. Mereka berdua
tetap terdiam di tepi pantai. Sampai pagi menjelang.
***
End