Minggu, 12 Mei 2013

Sayangi Hari


Kubuka lembaran buku
Kugores tinta emas di atas kertas
Kuwarnai garis demi garis
Kulantunkan bait-bait syahdu
Kunyanyikan nada-nada merdu

Oh burung
Bawalah tubuh ini terbang tinggi
Ke puncak bukit Tursina

Angin, bawalah kaki ini
Melangkah ke manapun engkau mau

Senyum mekar indah menjalar
Alunan melodi trus menemani
Lengkapi cangkir kopi  di meja bundar

Kubuka hari
Lembar demi lembar
Riang aku melayani
 Teman, aku siap menari
Ayo kita pergi
Mengguncang dunia selaksa mimpi

Air, biarkan diri mengalir
Penuhi hasrat hati

Api, nyalalah di dadaku
Bersinarlah terang slalu

Matahari, jangan henti kau berputar
Indahi hari ini

Jakarta, 3 April 2013
By:
MMF

KPKNL Gorontalo


Padamu ku mengabdi
Mewakili negara
Demi makmur nusa bangsa

KPKNL Gorontalo,
Siapku menjejak kaki
Melalui segala hari

Ini hari ku nikmati
Dengan senang terawang tenang

Hirup udara pancaran hari
Selalu setia menemani

KPKNL Gorontalo,
kulaksanankan titahmu
Penuh arti dengan hati

Jombang, 26 April 2013
By: MMF

Gorontalo



Gorontalo,

Padamu ku menuju

Raga ini menantimu

Penasaran kan rupamu


Tempatku kelak

Smua ada di pundak


Laut dan gunung menyambutku

Udara mengantarku


Gorontalo

Datanglah padaku

Smua harap ada padamu

Kan ku hormati

Segala janji

Baktiku tuk ibu pertiwi


Jombang, 26 April 2013 

By: MMF

Tentang Matahari


Terbujur aku tak sadar diri

Tertidur di atas pasir putih


Dan,

Matahari mulai muncul

Membuka mataku perlahan

Mengintip ku di tengah sadar

Pagi sejuk,

Aku masih ingin tidur


Sinar makin terang

Embun perlahan hilang

Ku mulai kepanasan

Bak cacing meliuk kiri kanan


Mentari menyengat

Tak kuasa ku

Terbangun ku

Liat suatu masa


Oh,

Lamakah ku bermimpi?

Gerakkah kaki ini?


Jalan kumulai

Tatap lagi diri

Matahari terus berjalan

Kenapa aku mematung di sini?


Matahari berjalan ke kiri

Aku berjalan ke kanan

Ku cari pohon kelapa

Di manapun itu


Dan kutemukan kelapa menjulang

Di bawah itu ku terbaring


Kini

Seberapapun matahari menyengat

Ku tetap santai

Tidur bernaung pohon rindang

Nikmati angin berderu ombak berhambur


Jakarta, 4 April 2013

By: MMF

Tentang...


Daun-daun jatuh berguguran tertiup angin. Malam ini dua insan sedang duduk. Debur ombak mengisi sunyi malam ini. di pantai. Anyer, antara aku dan dia.
“Ka.”
Eka hanya terdiam memandangi laut dengan ombaknya yang bergemuruh di malam itu.
“Harusnya ini gak pernah terjadi”
Aku dan dia merenung. Memandangi laut. Eka menarik napas dalam-dalam.
“Perasaan ini datang begitu tiba-tiba. Kita udah bersama sejak kuliah. Udah delapan tahun kita bersama. Perasaan itu begitu saja datang menyelinap ketika kita ikut training perusahaan. Dan aku semakin tidak bisa menyembunyikan perasaan itu. “
Angin berhembus dalam, membelai-belai rambutnya yang manis.
“Aku ngrasa bersalah ke pasanganku. Aku juga bener-bener ga enak ke pacarmu. Bukan tipeku untuk ngrebut cewek orang. Aku juga, ketika berhubungan dengan seseorang, aku akan setia ma orang itu. Di masa laluku hampir selalu pasanganku lah yang mutusin aku. Aku slalu berusaha setia ke mereka. Mungkin mereka yang bosan terhadapku. “
“Kita, emang ditakdirkan ga pernah bersama Ka, “
“Yang membuatku kaget adalah, ketika sesi perpisahan, waktu aku ngomongin kamu, kata temen-temen, kamu kliatan salah tingkah dan menjadi bukan Eka yang biasanya. Itu benar-benar membuatku kaget. Aku pikir wajarlah kalo aku cowok culun kek gini suka ke cewek super cantik kek kamu. Tapi, jika kebalikannya yang terjadi, itu adalah di luar dugaankau. Dan aku tak tau gimana cara menyikapinya. Kamu emang anggap aku teman. Dan aku emang anggap kamu teman. Emang lebih baik kita berteman saja.”
“Udah berkali-kali  mungkin kita dalam satu kelompok. Dan hasilnya hampir selalu bagus. Dan baru sekali kita satu kelompok dan hasilnya mengecewakan. Itu amat memukulku. Aku kecewa ma diriku sendiri. Dan aku ngrasa bersalah ke kamu karena gak bisa menghasilkan yang terbaik untuk kita. Kamu mungkin ambisius. Ketika kalah, akan terlihat jelas wajahmu yang murung. Jadi, aku berusaha menghibur kamu sembari menghibur diriku sendiri buat nutupi sakit itu. Aku juga gak terbiasa dengan kalah. Dan aku gak suka kalah.“
“Hari pertama masuk kerja temen-temen pada rame ngomongin kita. Tentang perubahan aku atau kamu. Tak tahu aku berapa orang yang menanyaiku. Aku hanya ingin memastikan gimana respon kamu ke aku. Apa baik-baik aja ato gimana. Dan sedikit terlihat kamu seperti salah tingkah ketika menghadapi aku. Seperti yang dikatakan teman-teman ke aku. Aku sempet bimbang, apakah aku akan mengejarmu, ato tetap setia ma pasanganku. Karena ku dah punya pasangan, dan kamu juga udah punya pasangan, aku memutuskan untuk melepasmu saja. Kita mungkin hanya berteman saja, paling jauh menjadi teman dekat atau sahabat, ga lebih dari itu. Tapi aku juga sangsi apa bisa kita jadi teman dekat, mengingat perbedaan kita yang begitu jauh bak langit dan bumi. Kamu suka berteman dengan teman-teman seperti itu, sedangkan aku suka berteman dengan teman yang itu-itu aja. Kita itu beda level. Begitu jauh. Kamu kasta brahmana. Sedangkan aku hanya kasta sudra. Seorang pengemis. Hanya seorang binatang jalang. Dari kumpulannya yang terbuang.”
“Makin hari aku merasa aku makin aneh. Dan entah kenapa, aku juga merasa kamu juga makin aneh. Aku gak bisa mengerti dengan perasaanku meskipun aku sudah memutuskan setia ke pasanganku.”
“Ka, jika kita jodoh suatu saat nanti, biarlah takdir yang mangarahkan kita untuk ke arah itu. Tanpa harus melukai siapapun. Jika kita tidak berjodoh, memang sudah seharusnya seperti itu. “
Eka seperti menulis-nulis sesuatu di pasir.
“Met, aku juga meminta maaf atas ketelodaranku waktu itu. Aku bukan salah tingkah, aku hanya tak tahu harus berbuat apa ke kamu. Aku kasihan ke kamu. Aku hanya menghormati kamu, karena kamu cowok baik-baik. Sehingga aku ga berani berkata-kata kasar ke kamu. Hingga aku diam aja ketika kamu berkata panjang lebar. “  
“Aku juga gak tau ketika aku tiba-tiba menjadi aneh, dan mersa kamu jadi aneh, sempet marah-marahi kamu. Aku berusaha setia ke pacarku. Aku kan da bilang ke kamu dari dulu aku anggap kamu sebagai temen. Dan sampe sekarang aku juga anggap kamu sebagai teman aja. Jadi biasa aja ke aku. Aku gak nyaman lok kamu terlalu dekat ke aku. Iya, kita emang gak level, perbedaan kita terlalu jauh. Kasihan kamu entar gak bisa ngimbangin aku, bahkan sebagai temanpun kamu gak bisa ngimbangin aku. Mungkin aku akan males buat deket-deket kamu karena kamu seperti mempermalukanku dan membuat imej aku turun. “
“Tentang yang dikatakan teman-teman, itu semua gak bener Met. Kamu jangan terpengaruh. Aku uda terbiasa digosipin seperti itu padahal gak terjadi apa-apa. Kamunya aja yang gak terbiasa dan menjadi begitu cepat geer ke aku. Kamu tetep aja dari dulu jadi objek bully temen-temen. Gak bosan napa kamu itu.”
“Itulah kenapa Ka akhir-akhir ini aku suka menghindari temen-temen. Karena setiap ketemu temen-temen, dengan alasan aku gak pernah ngomong ato apa, aku selalu dibully dan dijadikan objek. Aku juga muak. Aku lebih baik menyendiri aja daripadda mempermalukan diriku di depan orang banyak tanpa ku sadari. Apalagi di depan kamu.“
“Hiduplah dengan cara kamu sendiri Met, hiduplah dengan segala keunikanmu. Langkahkan kakimu sejauh yang kamu bisa.”
“Makasih Ka.”
Pembicaraan berakhir. Hari semakin larut. Mereka berdua tetap terdiam di tepi pantai. Sampai pagi menjelang.
***
End